Aceh

Warga Gampong Lamreung Lestarikan Tradisi Toet Apam

Warga Gampong Lamreung Lestarikan Tradisi Toet Apam
Ibu-ibu di Gampong Lamreung Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar sedang mengikuti kegiatan toet apam, pada Sabtu (17/1). (Waspada.id/Ist)
Kecil Besar
14px

ACEH BESAR (Waspada.id): Warga Gampong Lamreung, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, kembali menggelar tradisi adat Toet Apam, sebuah warisan budaya turun-temurun yang sarat nilai religius dan kebersamaan.

Kegiatan toet apam itu berlangsung khidmat dan meriah di Komplek Meunasah Gampong Lamreung, pada Sabtu (17/1), menjelang peringatan isra mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW.

Tradisi Toet Apam yang juga dikenal dengan sebutan “Buleun Toet Apam” dilaksanakan setiap tahunnya pada bulan Rajab dalam kalender Hijriah, menjelang Ramadan.

Dalam prosesi ini, warga secara gotong royong membuat kue apam, kuliner khas Aceh sejenis serabi, untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol syukur, permohonan maaf, serta doa bersama.

Pelaksanaan kegiatan Toet Apam tahun ini dikoordinir langsung oleh Tim Penggerak PKK Gampong Lamreung, Pokja III, dengan melibatkan seluruh kaum ibu-ibu.

Sejak pagi, para ibu-ibu tampak sibuk menyiapkan bahan dan peralatan memasak apam menggunakan cara tradisional yang masih dipertahankan hingga kini.

Keuchik Gampong Lamreung, M. Aditya Al Asyi, SE, mengatakan bahwa Toet Apam merupakan tradisi adat yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial masyarakat setempat dan terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

“Tradisi Toet Apam ini sudah menjadi warisan turun-temurun masyarakat Lamreung. Setiap menyambut Isra Mi’raj, ibu-ibu bergotong royong membuat apam dengan penuh kebersamaan. Kegiatan ini berlangsung sederhana, namun sarat makna dan nilai kebersamaan,” ujar Aditya.

Ia menjelaskan, seluruh rangkaian kegiatan berada di bawah koordinasi Ketua PKK Gampong Lamreung, Maulina Rahmi, A.Md.Kl, yang turut memastikan partisipasi aktif para ibu rumah tangga di gampong tersebut.

Setelah proses memasak selesai, apam yang telah matang tidak langsung dibagikan. Usai pelaksanaan shalat Magrib di meunasah, jamaah terlebih dahulu mengikuti pembacaan tahlil, zikir, dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rahmat Allah SWT.

Selanjutnya, kue apam dibagikan kepada jamaah untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Menurut Aditya, dalam proses pembuatan apam, warga masih menggunakan bahan-bahan alami seperti tepung beras, santan, gula, pisang, dan nangka.

Peralatan tradisional berupa cetakan apam dan tungku berbahan bakar daun kelapa kering turut digunakan sebagai bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga.

Apam yang telah matang kemudian disajikan bersama kuah tuhe, kuah manis berbahan santan dan campuran buah-buahan khas Aceh.

Kue ini dibagikan tidak hanya kepada warga gampong, tetapi juga kepada sanak saudara, tetangga, hingga siapa saja yang melintas di kawasan tersebut.

“Pembagian apam dari rumah ke rumah menciptakan suasana hangat, penuh kebersamaan, dan mempererat silaturahmi antar warga. Inilah nilai utama yang ingin kami jaga dari tradisi Toet Apam,” pungkasnya. (id65)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE