BIREUEN (Waspada.id): Dua bulan lebih pascabanjir bandang yang terjadi di Kabupaten Bireuen beberapa waktu lalu, warga Gampong Salah Sirong Jaya, Kecamatan Jeumpa, masih hidup tanpa aliran listrik. Gampong pedalaman tersebut hanya diterangi genset pada malam hari.
“Minyak bantuan dari pemerintah belum mencukupi. Sehingga kami kumpulkan uang dua sampai tiga ribu rupiah per orang buat beli minyak,” kata seorang warga kepada awak media, Sabtu (7/2).
Informasi yang dihimpun Waspada.id, hampir seluruh rumah warga di desa itu, bergantung pada mesin yang tidak henti-henti bersuara, seperti boat para nelayan hingga pagi hari yang menjadi satu satunya andalan bergantung pada genset bertenaga bensin dan solar.
“Pada malam hari hanya kami pakai. Kalau siang, kami mengandalkan matahari,” kata Bang Din, seorang warga desa tersebut, kepada wartawan.
Menurutnya, sebagian genset yang digunakan warga berasal dari bantuan relawan dan donasi masyarakat serta dari PLN. Namun, persoalan baru muncul pada ketersediaan bahan bakar. Warga terpaksa patungan untuk membeli minyak agar genset tetap menyala.
Bukan hanya listrik saja yang menjadi kendala akses komunikasi di desa tersebut juga tidak ada jaringan seluler untuk berkomunikasi.
“Sebagia warga kami memakai Starlink. Tidak ada jaringan di sini. Listrik juga belum ada hingga sekarang ini,” ujar Bang Din.
Dia berharap Pemerintah Kabupaten Bireuen bersama pemerintah pusat segera turun tangan menyelesaikan persoalan dasar tersebut, listrik bukan hanya sekadar penerangan di malam hari, melainkan itu sebuah kebutuhan yang mendesak untuk memulihkan kehidupan warga pascabencana. (id73)











