Warga Punti Segel Kantor Geusyik

Diduga Gelapkan Dana Dan Aset Desa

  • Bagikan
Warga Punti Segel Kantor Geusyik

Karena Geusyik Safriani dianggap arogan dan diduga Gelapkan dana dan aset desa, warga Gampong Punti Kec. Syamtalira Bayu Kab. Aceh Utara menyegel dan memalang kantor Keuchik setempat dengan kayu, Senin (4/3). Waspada / Zainuddin. Abdullah

ACEH UTARA (Waspada ): Diduga kuat terindikasi adanya korupsi dana desa, warga Gampong Punti Kec. Syamtalira Bayu Kab. Aceh Utara melakukan aksi demo dan menyegel Kantor Keuchik setempat untuk meminta penegak hukum bertindak dan mengusut penyimpangan dana oleh Geusyik Safriani, Senin (4/3).

Pantauan dilapangan, sekitar pukul 11.30 Wib, puluhan warga Gampong Punti Kec. Syamtalira Bayu melakukan aksi demo diMeunasah setempat.

Mereka beraksi dengan membawa spanduk protes dan meminta dugaan korupsi oleh Geusyik dapat diusut oleh penegak hukum.

Warga Punti Segel Kantor Geusyik
Karena diduga banyak gelapkan dana desa, Senin (4/3), Warga Gampong Punti Kec. Syamtalira Bayu Kab. Aceh Utara melakukan aksi demo dan menyegel Kantor Geusyik setempat. Mereka meminta penegak hukum menindak dan mengusut kasus dugaan korupsi tersebut. Waspada / Zainuddin. Abdullah

Selain itu warga juga melakukan aksi menyegel kantor Keuchik sebagai aksi protes dan meminta kasus dugaan korupsi oleh Geusyik bersama perangkat desa diusut oleh penegak hukum. Warga langsung menggunakan palu dan kayu untuk memalang pintu kantor keuchik.

Koordinator demo Ahmad Bayu mengatakan selama ini warga tidak lagi diam melihat Keuchik dan perangkat desa yang umumnya adalah adik kandung dan sepupunya melakukan penyelewengan dana dan aset.

Bahkan warga juga sudah pernah mengadukan kasus itu kepada pihak Camat Syamtalira Bayu dan Dinas Inspektorat Aceh Utara. Namun sayangnya hal itu diabaikan dan tidak ada tindakan apa pun.

Ahmad menyebutkan diantara dugaan korupsi yang dilakukan Geusyik adalah proyek fiktif pembangunan Meunasah, sumur bor, tiang listrik, dan pintu air yang mencapai ratusan juta serta tidak pernah mengadakan rapat atau tidak transparansi.

“ Keuchik dibantu perangkat desanya yang semuanya adalah anak kandungnya, adik dan sepupunya. Jadi mereka melakukan korupsi secara berjamaah,” paparnya.

Ahmad mewakili warga Gampong Punti meminta penegak hukum untuk mengambil tindakan tegas dan mengusut semua kasus dugaan korupsi yang dilakukan oleh Keuchik.

Pada kesempatan itu, ada warga Hasniati mengaku dirinya baru menerima bantuan BLT senilai Rp900 ribu, lalu uang itu justru diminta kembali oleh Geusyik.

Kemudian, Ernawati mengaku sebelumnya pernah menerima bantuan BLT, namun selama Geusyik Safriani justru sama sekali tidak pernah menerima BLT.

Guru pengajian Nasri mengaku dirinya sudah satu tahun belum menerima uang insentif. Ketika dipertanyakan Geusyik mengaku tidak ada anggaran tersebut.
Padahal dalam APBG tahun 2023 justru ada dicantumkan dana insentif guru balai pengajian sebanyak Rp21 juta.

Saat warga mempertanyakan dugaan penyimpangan itu justru Geusyik tidak menanggapinya dan bersikap arogan dengan menantang warga agar melaporkan ke penegak hukum.

Warga juga telah kehilangan rasa percaya mengingat perangkat desa merupakan keluarga Geusyik seperti bendahara adalah anaknya, dan perangkat lainnya adalah adik dan sepupunya.

Sementara itu, Geusyik Gampong Punti Safriani gagal dikonfirmasi dan tidak mengangkat telepon masuk ke nomor selulernya. (b09)

  • Bagikan