Saat fajar Aceh masih setengah bernafas, di meja kerja Ketua DPRK Pidie, Anwar Sastra Putra SH, (Bang Bulek-red) pagi sudah bekerja lebih dulu. Tidak oleh dering gawai, tetapi oleh suara kertas yang terlipat dilempar ke pagi, dipanggil menjadi riwayat hari.
Di sini, pagi bukan sekadar waktu. Ia adalah pertemuan antara realitas dan tanggung jawab, antara berita yang dibaca dan kebijakan yang sedang dirumuskan.
Kopi hangat di cangkir mengepul tipis, seperti nafas pagi yang turun perlahan. Di depannya, Harian Waspada terbuka bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai kompas yang masih menuntun langkah hari ini.
Membaca Banjir dan Harapan
Tangan Bang Bulek berhenti pada sebuah judul di rubrik lokal. “Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Huntara Siap Ditempati Warga Terdampak Banjir.”
Baris itu berbicara tentang banjir, tentang lumpur yang merajah rumah, tentang tangis dan tangan yang membantu mengangkat potongan hidup yang terjatuh.
Ia berbicara tentang huntara, rumah sementara yang kini siap dihuni, sebuah tenda yang akan menjadi pelukan baru bagi warga yang kehilangan atap.
“Kalau huntara siap ditempati, harapan juga harus siap kita sediakan,” begitu gumamnya, seolah membaca bukan sekadar kata, melainkan wajah manusia di baliknya.

Sejarah Waspada
Harian Waspada bukan sekadar koran. Ia adalah media yang bernyawa sejarah. Waspada lahir di Medan pada 11 Januari 1947, ketika republik masih rapuh dan ancaman penjajahan masih nyata.
Dalam penderitaan dan semangat juang, Waspada hadir sebagai seruan kewaspadaan, mengingatkan bangsa untuk tidak lengah, tidak goyah, dan tidak diam.
Kini, tahun ini menandai HUT ke-79 Waspada tujuh puluh sembilan tahun transformasi pemberitaan dari medan perang menuju medan peradaban.
Dari tinta yang menolak mundur kepada pena yang terus menulis realitas, Waspada tetap setia pada misinya, membaca zaman, menjaga nalar, dan menghadirkan suara yang tak pernah pudar.
Apresiasi Kepemimpinan
Dalam catatan panjang Waspada, Pidie turut tercatat sebagai cerita penghargaan atas keberpihakan. Pada 2015, media ini menganugerahkan Penghargaan Tokoh Waspada kepada Bupati Pidie, H. Sarjani Abdullah SH, MH, atas kerja nyata membangun infrastruktur pertanian yang berpihak kepada rakyat.
Bukan sekadar medal, bukan sekadar nama, itu adalah pengakuan atas pemimpin yang bekerja dalam sunyi, bukan riuh oleh pencitraan. “Yang dihargai bukan yang paling sering terlihat, tetapi yang paling lama bertahan membangun,” kata Anwar. Sastra Putra alias Bang Bulek, mengingat kembali nama yang pernah dicatat oleh Waspada.
Siaga Hari Ini
Jika Waspada 1947 lahir untuk memperingatkan agar bangsa tidak lengah pada penjajah, maka Waspada 2026 adalah peringatan agar pemimpin tidak lengah pada kelengahan terhadap rakyat. “Dulu siaga pada penjajah. Sekarang siaga pada lupa,” ujarnya, sambil menutup halaman itu.
Dan di meja itu, Anwar Sastra Putra tidak membaca berita sebagai konsumsi cepat. Ia menimbangnya seperti rekaman denyut kehidupan rakyat.
Di ruang sidang nanti, palu akan diketuk untuk mengesahkan keputusan.
Tetapi di meja ini, palu tidak memulai apa pun, karena keputusan dimulai oleh kewaspadaan.
“Palu hanya berbicara di akhir. Kewaspadaan harus berbicara di awal.”
Dan awal itu, pada pagi itu, dimulai dari lembar Harian Waspada yang masih mengepul bersama secawan kopi hangat ketika berita banjir, kesiapan huntara, sejarah juang 79 tahun, dan mandat rakyat bertemu dalam satu keheningan yang dramatis, sebelum keputusan benar-benar disahkan.
Muhammad Riza











