Wujudkan Generasi Berkarakter, PR Besar Guru Songsong 2045 

  • Bagikan
Wujudkan Generasi Berkarakter, PR Besar Guru Songsong 2045 

Bunda Paud Aceh, Ny. Ayu Marzuki, saat membuka Konferensi X Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) Aceh, di Asrama Haji, Banda Aceh, Minggu (10/12). (Waspada/Zafrullah)

BANDA ACEH (Waspada): Guru memiliki pekerjaan rumah (PR) yang besar, khususnya dalam menyongsong bonus demografi dan mewujudkan Generasi Indonesia Emas di tahun 2045.

Hal tersebut disampaikan oleh Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Aceh Ayu Marzuki, saat membuka Konferensi X Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) Aceh, di Asrama Haji Banda Aceh, Minggu (10/12).

“Kita punya PR besar. Di tahun 2045 nanti kita memiliki bonus demografi, dimana usia produktif Indonesia di tahun tersebut jumlahnya lebih besar. Tugas ibu dan bapak guru tentu menjadi semakin berat, karena tidak hanya dituntut mewujudkan generasi Indonesia yang cerdas tetapi juga berkarakter baik,” ujar Ayu Marzuki.

Oleh karena itu, Ayu mengajak para peserta konferensi untuk menjadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk meningkatkan mutu dan kualitas bagi guru-guru, karena pada konferensi ini IGTKI Aceh juga menyelenggarakan pelatihan tentang Transisi Paud ke SD yang menyenangkan.

“Saya optimis output dari pelatihan dapat diimplementasikan di satuan pendidikan masing- masing. Sebagaimana kita ketahui, saat ini Bunda PAUD telah menjalankan program Transisi PAUD-SD yang menyenangkan. Salah satu penekanannya adalah tidak boleh lagi ada tes calistung saat masuk SD,” ujar Ayu

Bunda PAUD Aceh menambahkan, salah satu tugas para guru adalah membangun kesadaran kepada orang tua untuk tidak panik dan gusar, jika anak-anaknya di usia TK menuju SD belum bisa membaca, tulis dan hitung. “Jangan paksakan anak-anak usia PAUD dan TK bisa calistung dengan diikutkan les. Karena anak di usia tersebut yang mereka tahu adalah bermain dan segala hal yang menyenangkan. Jika mengikuti les, maka mereka jadi tertekan. Pendekatannya adalah bermain sambil belajar bukan belajar sambil bermain, apalagi dengan memaksakan anak untuk bisa membaca dengan mengikuti les,” ungkap Ayu.

Sementara itu, terkait pendidikan karakter, Ayu juga mengajak para guru untuk kembali mendidik anak-anak untuk mengenal empat kata kunci, yaitu maaf, tolong, terima kasih dan permisi. “Maaf, tolong, terima kasih dan permisi ini adalah pendidikan dasar dalam upaya kita mewujudkan generasi berkarakter, beretika dan berbudi pekerti luhur. Di masa lampau, orang tua kita juga mengajarkan hal seperti ini kepada kita,” imbuh Ayu.

“Terima kasih kepada ibu-ibu yang hadir di sini dan seluruh guru di Aceh, atas dedikasinya untuk terus berkomitmen menjadi penyuluh dan pembimbing generasi muda. Insya Allah, segala pengabdian ibu dan bapak menjadi amal jariah dan diganjar pahala berlimpah oleh Allah,” pungkas Ayu Marzuki.

Sebelumnya, Ketua PGRI Aceh Al Munzir, dalam sambutannya mengungkapkan, para tenaga pendidik di era 4.0 menghadapi tantangan berat, karena menghadapi generasi Z yang memiliki kemampuan dan kedekatan yang intens dengan internet.

Al Munzir memaparkan, Gen Z memiliki akses untuk mengetahui segala hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dari internet melalui gawai yang mereka miliki. “Namun, peserta didik tidak akan mendapatkan pendidikan karakter. Nah, di sinilah ruang bagi kita untuk mendidik dan membentuk generasi Aceh dan generasi Indonesia yang tidak hanya cerdas dan mampu bersaing tetapi juga menjadi generasi yang beretika dan berbudi pekerti luhur,” kata Al Munzir.

Dalam sambutannya, Ketua PGRI juga mengapresiasi para guru yang telah mengabdikan diri untuk memilih profesi mulia ini. “Apresiasi tinggi kami sampaikan kepada para guru. Ibu dan bapak adalah penyuluh bangsa,” pungkas Al Munzir. (b03)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *