ISRAK MIKRAJ, Sebuah Penggalan Kisah

  • Bagikan
ISRAK MIKRAJ, Sebuah Penggalan Kisah
ISRAK MIKRAJ, Sebuah Penggalan Kisah

Israk mikraj ada dua peristiwa yang dialami Rasulullah Saw sekaligus pada malam 27 Rajab tahun 11 H. Israk artinya beliau mengadakan perjalanan dari Masjidil Haram Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Jerussalem Pelestina. Dalam perjalanan itu beliau mengenderai Buraq yang kecepatannya satu langkah sejauh mata memandang, atau yang dalam teori modern disebut secepat cahaya dan didampingi oleh Malaikat Jibrail.

Sampai di masjidil Aqsha beliau melaksanakan shalat dua rakaat, lalu menaik ke langit pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ketujuh. Sampai di sini, ia menaik lagi ke Shidratul Muntaha, tetapi sendirian.
Sampai di Shiratul Muntaha ia bertemu dengan Tuhan, sebagaimana digambarkan al-Qur’an surat an-Najm/53: 5-10.


Dari pertemuan dengan Tuhan ini, Nabi mendapat perintah melaksanakan shalat 50 waktu, namun atas saran Nabi Musa saat ia turun dari Shidratul Muntaha, akhirnya meminta keringanan dan ditetapkanlah 5 waktu saja, namun tetap dengan nilai 50 waktu.
Saat perjalanan isra, Nabi melihat beberapa peristiwa yang maknanya kemudian ditafsirkan pendampingnya Jibril. Misalnya, ia melihat sekelompok kaum yang memotong-motong lidahnya, sebagai gambaran dari anak manusia yang pendusta selama di dunia. Selanjutnya, Nabi melihat seorang nenek tua renta sebagai gambaran usia dunia yang sudah tua renta.

Kemudian ia melihat seorang wanita yang mengambil kayu api. Setelah dikumpul lalu diikat dan diangkat, karena kebanyakan tiak terangkat. Tetapi sang wanita tersebut mengambil lagi, ikat lagi dan tentu tidak bisa lagi terangkat.
Karena keheranan Nabi bertanya kepada malaikat Jibril, lalu dijawab bahwa itu gambaran anak manusia yang diberi amanah memikul suatu jabatan yang tidak bisa dilaksanakan, tetapi minta jabatan lain lagi. Demikianlah perjalanan terus berlangsung dengan beberapa peristiwa lainnya.


Dalam peristiwa mikraj juga terjadi beberapa pertemuan Nabi dengan nabi-nabi sebelumnya, yaitu di langit pertama bertemu Nabi Adam AS, di langit kedua dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya, di langit ketiga dengan Nabi Yusuf, dilangit keempat dengan Nabi Idris, di langit yang kelima dengan Nabi Harun, di langit keenam dengan Nabi Musa, dan di langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim, keselamatan bagi mereka.
Sebelum shalat shubuh Nabi Muhammad Saw sudah sampai kembali ke Mekkah, dan di pagi harinya, ia menceritakan perjalanan dan pengalamannya melaksanakan israk mikraj, yang sudah barangtentu menimbulkan pro kontra. Pengikut setianya tetappercaya, yaitu Abubakar dan kawan-kawan, yang engkar semakin engkar seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, dan yang ragu menjadi tidak percaya atau menjadi munafik.

…28=2=2022..

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *