Aceh Tengah – Seminar dan pertunjukan budaya bertajuk “Gema Pepongoten, Menyuarakan Tradisi yang Terlupa” digelar pada 22 Desember 2025 di Aula MTsN 2 Aceh Tengah. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Bantuan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Wilayah I Aceh Tahun 2025.
Kegiatan tersebut awalnya dijadwalkan berlangsung pada 27 November 2025, namun harus ditunda akibat bencana alam yang terjadi pada 26 November 2025. Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan sekitar satu bulan setelah bencana ini menjadi momentum penting dalam upaya membangkitkan kembali semangat peserta melalui pendekatan seni dan budaya.

Acara secara resmi dibuka oleh Ibu Syamsiah AS, S.M, sebagai perwakilan dari MTsN 2 Aceh Tengah selaku tuan rumah kegiatan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan kebudayaan di lingkungan sekolah serta berharap kegiatan ini dapat memberi dampak positif bagi peserta, khususnya dalam situasi pascabencana. Selain itu, kegiatan juga dibuka oleh Ketua Panitia, Ibu Barep Sarinauli, S.S., M.Pd, yang menyampaikan latar belakang kegiatan serta tujuan pelaksanaan seminar dan pertunjukan budaya tersebut.
Seminar menghadirkan Inge Ayudia, M.Pd sebagai narasumber utama yang membawakan materi tentang Pepongoten, salah satu tradisi lisan masyarakat Gayo. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa Pepongoten merupakan tradisi pemberian nasihat kepada perempuan yang akan menikah. Tradisi ini berasal dari kata pongot yang berarti tangisan, sebagai simbol ungkapan perasaan dan pesan moral yang mendalam dari orang tua atau keluarga.

“Pepongoten mengandung nilai moral, etika, dan kearifan lokal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Gayo. Tradisi ini perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang dan tetap relevan,” ujar beliau.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan Pepongoten yang dibawakan oleh Ahmadi Melala. Pertunjukan ini menampilkan ekspresi budaya yang sarat emosi dan pesan kehidupan, serta menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta yang hadir.
Selain sebagai upaya pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi ruang pemulihan pascabencana, di mana peserta diajak untuk kembali membangun semangat, kebersamaan, dan optimisme melalui seni dan tradisi lokal. Pendekatan budaya dinilai mampu memberikan dampak positif secara psikologis bagi peserta setelah mengalami masa sulit akibat bencana alam.
Melalui kegiatan “Gema Pepongoten, Menyuarakan Tradisi yang Terlupa”, diharapkan tradisi lisan Gayo dapat terus dilestarikan sekaligus menjadi bagian dari penguatan identitas budaya masyarakat Aceh Tengah di tengah tantangan zaman.












