Dua tahun bersarang di Royal Condominium, omzet judol tembus Rp7 miliar. Jejak internasional mengintai dari kamar apartemen mewah itu.
MEDAN tak pernah tidur. Tapi di lantai 7, 6, dan 10 Apartemen Royal Condominium, Jalan Palang Merah, ada lebih gelap dari malam: industri judi online, mengalir deras bagai Sungai Deli tatkala meluap. Direktorat Reserse Siber Polda Sumut membongkar markas ini pada 26 Maret 2026. Hasilnya: 19 tersangka, tiga kamar operasional, dan omzet Rp7 miliar selama dua tahun tanpa terendus.
Ini arsitektur kejahatan modern, bukan kasus judi biasa, yang mengakar di tanah elite—tanah leluhur Kesultanan Deli.
Royal Condominium wilayah privat, tak sembarangan. Di balik dinding kaca, penghuni saling sapa di lift, sementara di kamar 705 dan 601, 19 operator memutar mesin uang digital berstruktur rapi: leader, telemarketing, operator konten, hingga tim pengecek OTP. Target harian Rp1 juta deposit per marketing, gaji Rp20 juta per bulan. Sistem terorganisir bak startup teknologi, hanya produknya kehancuran finansial.
Kamar 1005 menjadi “kamar kekuasaan”—tempat leader BH alias Tony mengatur strategi. Tapi ketika polisi mendobrak, Tony sudah kabur. Jejaknya membumbung di udara, meninggalkan 19 anak buah yang kini menghadapi Pasal 426 KUHP: ancaman 9 tahun penjara.
Kasus ini bukan isolasi. Empat tahun lalu, 9 Agustus 2022, tim sama dipimpin Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra menggerebek lokasi serupa di perumahan elite Cemara Asri. Ratusan personel gabungan menyergap Warung WW pukul 00.30 WIB, menemukan ratusan komputer dan laptop yang mengoperasikan situs LEBAH4D, DEWAJUDI4D, dan LARIS4D—operator judi online terbesar di Sumut saat itu.
Dari Cemara Asri ke Royal Condominium: jarak geografis hanya beberapa kilometer, tapi jarak waktu empat tahun menunjukkan metode berubah, lokasi bergeser dari ruko ke apartemen, tapi bisnis tetap subur. Dulu berkedok warung kuliner, kini menyamar sebagai penghuni apartemen mewah. Evolusi ini bukan kebetulan; ini adaptasi predator yang belajar dari kesalahan.
Yang membuat kasus Royal Condominium mengerikan bukan hanya angkanya. Salah satu tersangka pernah bekerja di Kamboja—pusat industri judi online Asia Tenggara. Ini bukti Medan bukan lagi pasar pinggiran, tapi node dalam jaringan internasional. Polisi menyita 10 rekening bank, puluhan perangkat elektronik, dan jejak digital yang menunjukkan aliran dana lintas batas.
Pertanyaannya: bagaimana operasi sebesar ini bisa bertahan dua tahun di apartemen mewah tanpa terendus? Pihak apartemen mengaku tak tahu. Masyarakat sekitar baru melapor ketika curiga. Celah keamanan itu—yang membiarkan 19 orang keluar-masuk dengan barang elektronik berat—adalah pertanyaan tak masuk akal, sama seperti empat tahun lalu di Cemara Asri.
Royal Condominium dan Cemara Asri bukan duet tunggal. Di kota-kota besar, apartemen dan rumah mewah jadi pilihan sindikat judi online karena privasi tinggi, akses terkontrol, dan citra elite. Diduga kuat industri judi online ini melibatkan oknum aparat sebagai “payung” pelindung. Di Royal Condominium, polisi masih mendalami siapa yang memberi jalan—apakah ada informan internal yang sengaja membuat mata buta?
Para pelaku menggunakan taktik digital halus: promosi via WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Iming-iming keuntungan instan. Mereka memproduksi konten berjubah investasi, bukan judi. Targetnya generasi muda yang haus validasi finansial cepat. Setiap pemain wajib deposit Rp1 juta per hari—sistem dirancang untuk membuat kerugian terasa seperti “biaya partisipasi”, bukan kekalahan.
Ini bukan judi tradisional. Ini adalah mesin prediksi yang diprogram untuk selalu menang—dan pemain selalu kalah.
Ketika 19 tersangka digelandang, yang tersisa hanyalah kamar kosong dan jejak digital yang terus berdenyut di server luar negeri. Tony, sang leader, masih buron. Jaringan internasional masih aktif. Dan di sudut-sudut apartemen mewah lain di Medan—mungkin di kompleks sama, atau di perumahan elite berikutnya—sudah ada yang menggantikan posisi mereka.
Polda Sumut berkomitmen memberantas. Tapi komitmen itu akan teruji ketika penyelidikan menyentuh lapisan lebih dalam—yang melibatkan uang, kekuasaan, dan mungkin, nama-nama oknum aparat dan bandar lain tak pernah terekspos media.
Royal Condominium, boleh jadi, kini bersih. Tapi pertanyaannya: berapa banyak “Royal Condominium” lain masih beroperasi, menunggu giliran ditembus polisi? Dan apakah empat tahun lagi, satu tahun lagi, atau besok kita akan kembali menulis editorial serupa dengan nama lokasi berbeda? Ditunggu keberanian polisi mengungkap jejak oknum polisi di balik suburnya industri judi di Tanah Melayu Deli ini.













