Editorial

Podomoro, Exclusive Apartment “Rasa” Rusunawa

Podomoro, Exclusive Apartment “Rasa” Rusunawa
Kecil Besar
14px

Apartemen sohor ini belakangan bersalin rupa jadi penginapan “liar”. Manajemennya inferior, fasilitas tak sesuai janji.

DI JANTUNG Kota Medan, di atas mal berkilau, berdiri ikon modernitas: Podomoro Exclusive Apartment City Deli. Brosurnya menjual janji: kolam renang, gym, panorama kota, dan gaya hidup urban. Namun di koridornya, kata pemilik unit Pangeran Kasan, janji itu luruh menjadi bau tak sedap, sisa asap rokok yang menyengat, sampah tidak pada tempat, dan tamu silih berganti, berjejal, meriung dalam unit sempit—bak penumpang kereta ekonomi musim mudik. Superblok ini seolah mencampur hunian premium dengan rusunawa murah, menghasilkan “koktail” anomali yang menusuk paru-paru kenyamanan penghuni.

Pengembang melabelinya “apartemen”—kata yang menjanjikan privasi, ketenangan, dan hak-hak sipil kecil penghuni. Namun di pasar daring, unit-unit itu diperdagangkan telanjang laiknya stan kaki lima: checkout pukul 12 siang, dipesan lewat Traveloka, Travelio, Agoda, Airbnb, atau kontak langsung pemilik; tarifnya Rp520 ribuan per malam hingga di atas sejuta, dengan paket bulanan dari jutaan sampai puluhan juta per tahun. Hunian pun berubah jadi produk, penghuni menjadi konsumen, dan etika tata guna ruang dijajakan sebagai komoditas.

Masalahnya bukan cuma fantasi layanan, melainkan aturan. Rumah susun dibangun untuk hunian, bukan mesin penginapan bergilir. Undang-Undang Rumah Susun menegaskan fungsi hunian; aturan bangunan mewajibkan persetujuan atas perubahan fungsi; dan rezim perizinan menempatkan penginapan sebagai usaha yang mensyaratkan NIB dan KBLI. Artinya, ketika unit diperlakukan sebagai “hotel harian”, ada buku syarat yang wajib dibuka—bukan cukup memajang foto dan menunggu tamu tanpa tatap muka.

Namun hukum, di hunian yang gemar memamerkan eksklusivisme ini, kerap seperti sabun kering di kamar mandi: ada, tapi tak dipakai. Penghuni Podomoro tak menuntut estetika, melainkan perlindungan dan kesetaraan sesuai janji awal. Mereka menyaksikan koridor menjelma ruang komunal dadakan, hunian kecil dipadatkan menjadi hamparan tikar bagi tujuh hingga sepuluh orang—pemandangan yang, dengan bahasa renik, disebut mengganggu kenyamanan bersama. Ketika tata tertib internal tak berdaya dan pengelola sibuk menghitung pemasukan besar—pertanyaannya: siapa menjaga rumah kita saat hunian dijadikan komoditas? Jawabannya tetap samar, meski keluhan dan amarah penghuni tak pernah surut.

Secara satir: bintang rating berkibar, testimoni menyebut “nyaman” dan “cocok staycation”, sementara di lantai yang sama keluarga lain bermalam dengan was-was oleh lalu-lalang tamu harian yang pulang larut. Sewa mengalir, ulasan positif menempel, meski tata ruang kota mengendur. Pasar digital mengganjar mereka yang mengonversi unit menjadi mesin pendapatan; hukum memberi peringatan—tapi kerap berakhir sebagai catatan kecil di aturan internal dan pemerintah kota.

Solusi win-win paling bijak ialah menegakkan aturan, menata ulang iklan daring, mempertegas peran PPPSRS dalam AD/ART, serta mendorong pengembang dan pengelola menghormati fungsi hunian. Tanpa itu, Podomoro Exclusive Apartment akan terus menjadi laboratorium eksperimen sosial: rusunawa yang menyamar sebagai hotel, dengan penghuni yang berpura-pura nyaman. Kota pun hanya mencatatnya sebagai “tren ekonomi”, sementara lorong tetap bau dan kekacauan psikologis terus hidup.

Podomoro Exclusive Apartment, dijual mahal dengan tumpukan aturan dan tagihan, lingkungan kian tak ramah, parkir meleset dari janji, serta kutipan dan denda sepihak di luar kesepahaman, ternyata menawarkan anomali: apartemen eksklusif “rasa” rusunawa—dan rusunawa “berwajah” apartemen eksklusif.

Penghuni “Kota Podomoro” City Deli kini, beramai-ramai, hidup dalam pusaran kegelisahan—AJB menggantung tanpa kepastian; kenikmatan dan kenyamanan tinggal di hunian yang, katanya, eminen, berangsur runtuh menjelma teror sosial harian para kaum urban yang menyesakkan.

Masihkah Anda berhasrat memiliki hunian di sini? “Kami kecewa dengan peradaban yang dipertontonkan dan pengelolaan manajemen. Benar-benar tidak profesional,” protes Pangeran Kasan hari ini—dan barangkali esok. Sebab di sini, ketika Anda membeli dengan harga premium, plus janji-janji eksklusif, yang diterima justru sebaliknya: komitmen rendah dan pelayanan buruk.

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE