Ekonomi

Airlangga: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global

Airlangga: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, di tengah berbagai tantangan global tersebut, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat dengan risiko resesi yang relatif rendah.
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Pemerintah terus memperkuat arah kebijakan perekonomian nasional guna menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Tekanan eksternal seperti fragmentasi perdagangan dunia, perlambatan ekonomi global, hingga meningkatnya tensi geopolitik menuntut kebijakan yang adaptif, konsisten, dan berorientasi jangka menengah hingga panjang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, di tengah berbagai tantangan global tersebut, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat dengan risiko resesi yang relatif rendah.

“Di tengah ketidakpastian global akibat perlambatan ekonomi dan meningkatnya tensi geopolitik, ekonomi Indonesia tetap resilien dengan tingkat risiko resesi yang relatif rendah, bahkan dibandingkan dengan Amerika Serikat, China, dan Jepang,” ujar Airlangga saat menyampaikan keynote speech dalam forum IBC Business Outlook 2026 yang diselenggarakan Indonesian Business Council (IBC), kemarin.

Airlangga memaparkan, selama tujuh tahun terakhir Indonesia secara konsisten mencatat pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen, dengan akumulasi pertumbuhan mencapai sekitar 35 persen. Stabilitas makroekonomi pun tetap terjaga, tercermin dari inflasi Desember 2025 yang berada pada level 2,92 persen.

Kinerja pasar keuangan juga menunjukkan tren positif. Indeks saham domestik terus mencetak rekor, nilai tukar rupiah relatif stabil, serta aktivitas sektor riil tetap ekspansif. Hal ini terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang berada di level 51,2 dan indeks kepercayaan konsumen yang meningkat ke angka 123,5. Dari sisi eksternal, surplus neraca perdagangan serta cadangan devisa yang mencapai USD 156,1 miliar turut memperkuat fondasi perekonomian nasional.

Dari aspek pembiayaan, pertumbuhan kredit perbankan tetap terjaga mendekati 8 persen, seiring dengan tren peningkatan realisasi penanaman modal asing (FDI). Kondisi tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia serta prospek pertumbuhan jangka panjang.

Airlangga juga menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen kebijakan yang kredibel dan bertanggung jawab. Defisit APBN 2025 dijaga di bawah 3 persen, dengan rasio utang pemerintah yang tetap terkendali. Selain itu, pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi sepanjang 2025 senilai Rp110,7 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Memasuki tahun 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4 persen. Target tersebut akan didukung oleh penguatan sektor riil, paket kebijakan ekonomi, serta delapan program prioritas nasional. Fokus diarahkan pada penguatan ketahanan pangan dan energi, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang diharapkan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru setiap tahunnya.

Di sisi lain, APBN juga diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui program pendidikan, perlindungan sosial, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja. Pemerintah menyiapkan berbagai program peningkatan produktivitas, mulai dari magang bagi lulusan baru, pelatihan tenaga kerja, hingga fasilitasi penempatan tenaga kerja ke luar negeri pada sektor-sektor strategis.

Dalam menghadapi percepatan transformasi digital, Indonesia turut mendorong penguatan ekonomi digital kawasan melalui inisiatif ASEAN Digital Economy Framework Agreement. Pemerintah juga memperluas implementasi sistem pembayaran digital QRIS secara regional dan internasional guna memperkuat inklusi keuangan serta literasi digital masyarakat.

Selain itu, perbaikan iklim investasi terus dilakukan melalui penyederhanaan regulasi dan percepatan program strategis nasional. Sejumlah sektor padat karya, seperti industri tekstil, elektronik, dan manufaktur berorientasi ekspor, menjadi perhatian utama guna menjaga daya saing dan melindungi jutaan tenaga kerja nasional di tengah dinamika perdagangan global.

Menutup paparannya, Airlangga mengajak seluruh pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk tetap optimistis terhadap prospek perekonomian Indonesia ke depan.

“Menghadapi periode mendatang, kita harus optimistis. Akan ada banyak kabar baik, dan saya yakin berbagai lembaga global, termasuk IMF, juga optimistis terhadap ekonomi Indonesia,” pungkasnya.

Acara tersebut turut dihadiri Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, CEO Indonesian Business Council Sofyan A. Djalil, Chairman IBC Board of Trustee Arsjad Rasjid, Expert Panel IBC Agus Martowardjojo, Tim Asistensi Menko Perekonomian Raden Pardede, serta perwakilan kedutaan besar negara sahabat. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE