JAKARTA (Waspada.id): Langkah Indonesia yang kian agresif menembus berbagai perjanjian perdagangan bebas global ternyata tidak selalu mendapat sambutan positif dari semua negara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, posisi Indonesia yang semakin strategis dalam peta perdagangan internasional justru memicu dinamika dan persaingan antarnegara.
Airlangga mengungkapkan, saat ini Indonesia telah membuka akses ke hampir seluruh pasar utama dunia melalui berbagai kerja sama perdagangan. Mulai dari Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa dan Kanada, rencana CEPA dengan Inggris, hingga keikutsertaan dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bersama negara-negara ASEAN, Jepang, Korea Selatan, China, Australia, dan Selandia Baru.
“Posisi Indonesia saat ini bahkan lebih maju dibandingkan sebagian besar negara ASEAN lainnya,” ujar Airlangga dalam acara Road to Jakarta Food Security Summit di Menara Kadin Indonesia, Selasa (13/1/2026).
Dalam upaya bergabung ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP), Airlangga mengakui Indonesia memang masih tertinggal dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Meski demikian, proses aksesi tetap berjalan di tengah berbagai dinamika antarnegara.
“Kita juga sedang masuk, dan tentu Singapura tidak suka-suka banget juga kalau Indonesia masuk di dalam seluruh free trade,” kata Airlangga.
Menurutnya, berbagai upaya yang berpotensi menghambat langkah Indonesia tidak akan menggeser arah perekonomian nasional. Dukungan akses pasar yang luas serta daya saing ekonomi domestik dinilai menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk terus melaju.
“Maka kita adalah salah satu negara dibandingkan negara ASEAN lain, yang sudah berada dalam kalau balapan itu pole position, posisi terdepan,” tegasnya.
Optimisme tersebut sejalan dengan kinerja perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada November 2025 neraca perdagangan barang Indonesia mencatat surplus sebesar USD 2,66 miliar. Dengan capaian tersebut, Indonesia telah membukukan surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan surplus tersebut terutama ditopang oleh komoditas nonmigas yang mencapai USD 4,64 miliar. Komoditas penyumbang surplus terbesar antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), besi dan baja (HS72), serta nikel dan turunannya (HS75).
“Pada saat yang sama, neraca perdagangan migas tercatat defisit sebesar USD 1,98 miliar, terutama disumbang oleh minyak mentah dan hasil minyak,” ujar Pudji dalam konferensi pers BPS, baru-baru ini.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025 mencatat surplus sebesar USD 38,54 miliar. Surplus tersebut ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar USD 56,15 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit USD 17,61 miliar.
Berdasarkan negara mitra dagang, surplus terbesar Indonesia berasal dari Amerika Serikat sebesar USD 16,54 miliar, India USD 12,06 miliar, dan Filipina USD 7,81 miliar. Sementara itu, defisit terdalam tercatat dengan Tiongkok sebesar minus USD 17,74 miliar, disusul Australia minus USD 5,04 miliar, dan Singapura minus USD 4,66 miliar. (Lip6)







