MEDAN (Waspada.id): Tekanan geopolitik global kembali memanaskan pasar keuangan dunia. Ketegangan terbaru dipicu oleh sikap Amerika Serikat yang mempertegas keinginannya untuk menguasai wilayah Greenland guna dijadikan pangkalan militer. Kondisi tersebut mendorong harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi baru, menembus level psikologis US$5.000 per ons troy.
Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, lonjakan harga emas tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian global, baik dari sisi geopolitik maupun arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
“Emas kembali menjadi aset pelarian utama di tengah tekanan dolar AS dan meningkatnya tensi geopolitik. Sikap AS terkait Greenland memperbesar kekhawatiran pasar akan konflik global yang lebih luas,” ujar Gunawan, Senin (26/1).
Gunawan menjelaskan, dalam sepekan ke depan pasar akan dihadapkan pada sejumlah agenda ekonomi penting, khususnya dari Amerika Serikat. Selain rilis data ekonomi utama, pelaku pasar juga menantikan testimoni Presiden AS pada Selasa dan Rabu, serta keputusan kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) yang dijadwalkan pada Kamis mendatang.
“Agenda-agenda tersebut akan sangat menentukan arah pasar, baik untuk dolar AS, pasar saham, maupun komoditas seperti emas,” katanya.
Pada perdagangan awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di level 8.967. Namun, tekanan datang dari bursa saham Asia yang mayoritas bergerak di zona merah pada perdagangan pagi, sehingga berpotensi menyeret pergerakan IHSG.
Gunawan memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang 8.930 hingga 9.000 sepanjang sesi perdagangan hari ini. “Penguatan rupiah menjadi salah satu faktor penopang IHSG, meskipun tekanan eksternal dari bursa Asia masih cukup kuat,” ujarnya.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terpantau menguat ke level 16.755 per dolar AS. Melemahnya dolar AS dipicu oleh penurunan indeks dolar ke kisaran 97,06 serta turunnya imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun ke level 4,217 persen.
“Menjelang keputusan The Fed, dolar AS cenderung melemah. Hal ini memberi ruang bagi penguatan rupiah dan menopang pasar saham domestik,” jelas Gunawan.
Sementara itu, harga emas dunia melonjak ke level US$5.086 per ons troy atau setara sekitar Rp2,75 juta per gram. Kenaikan tajam ini juga dipengaruhi oleh kebuntuan kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina, yang kembali memicu koreksi di pasar keuangan global meskipun kedua pihak sepakat melanjutkan putaran diskusi berikutnya.
“Selama tensi geopolitik belum mereda dan ketidakpastian global masih tinggi, harga emas berpeluang tetap bertahan di level tinggi,” pungkas Gunawan. (id09)










