JAKARTA (Waspada.id): Bank sentral Turki tercatat mulai menguras cadangan emasnya secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap tekanan pasar yang dipicu oleh konflik geopolitik dan lonjakan harga energi global.
Berdasarkan data terbaru dari Bank Sentral Turki, cadangan emas negara tersebut turun sebesar 69,1 ton menjadi 702,5 ton dalam sepekan terakhir. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan cadangan emas yang dalam dua minggu terakhir telah mencapai lebih dari 118 ton.
Mengutip laporan Mining.com pada Minggu (5/4/2026), ini merupakan penurunan mingguan terbesar sejak 2013, saat bank sentral mulai mempublikasikan data cadangan emasnya.
Sejumlah analis perbankan memperkirakan, sekitar 26 ton emas telah dijual, sementara 42 ton lainnya digunakan dalam transaksi swap. Meski demikian, pihak bank sentral belum memberikan konfirmasi resmi terkait rincian tersebut.
Langkah agresif ini dilakukan untuk menopang nilai tukar lira serta menjaga likuiditas pasar di tengah tekanan eksternal. Konflik yang memicu lonjakan harga energi global turut memperburuk kondisi ekonomi dan memperbesar tekanan terhadap mata uang domestik.
Selain mengandalkan cadangan emas, bank sentral juga dilaporkan melakukan intervensi melalui penjualan valuta asing dalam jumlah besar serta kebijakan likuiditas lainnya.
Gubernur Bank Sentral Turki, Fatih Karahan, menyatakan bahwa pihaknya mengedepankan pendekatan yang fleksibel dan terukur dalam mengelola cadangan serta instrumen likuiditas.
Dalam keterangannya kepada kantor berita Anadolu, Karahan menegaskan bahwa penggunaan instrumen berbasis emas akan terus dipertimbangkan, terutama saat pasar valuta asing membutuhkan dukungan likuiditas tambahan.
Langkah ini mencerminkan strategi defensif otoritas moneter Turki dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat. (invid)










