AcehEkonomi

BI Aceh: Pasca Bencana Ekonomi Diproyeksi Pulih pada Semester Kedua 2026

BI Aceh: Pasca Bencana Ekonomi Diproyeksi Pulih pada Semester Kedua 2026
Agus Chusaini, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh dalam konferensi pers terkait perkembangan ekonomi pascabencana di Aceh, Rabu (21/1/2026). Waspada.id/Hulwa Dzakira
Kecil Besar
14px

BANDA ACEH (Waspada.id): Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh menilai dampak bencana masih akan menahan kinerja ekonomi daerah pada semester pertama 2026. Aktivitas ekonomi masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih, namun percepatan pemulihan diharapkan mulai mendorong normalisasi pada semester kedua.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini mengatakan aktivitas ekonomi masih tertahan akibat terbatasnya kemampuan masyarakat untuk kembali bekerja secara normal pascabencana.

“Dampak bencana masih terbawa pada semester pertama karena aktivitas ekonomi belum sepenuhnya pulih. Namun kami berharap pada semester kedua masyarakat sudah dapat kembali bekerja dan berproduksi,” ujar Agus kepada awak media pada Rabu, (21/2026).

Menurutnya, berbagai program bantuan pemerintah akan menjadi penopang utama pemulihan ekonomi daerah. Bantuan tunai dan program pemulihan lainnya diperkirakan mendorong permintaan domestik sekaligus mempercepat perputaran ekonomi.

“Stimulus pemerintah yang sedang disiapkan akan mendorong pemulihan dan menggantikan dampak negatif bencana terhadap pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Bank Indonesia Aceh memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 mengalami koreksi terbatas. Sebelum bencana, pertumbuhan ekonomi Aceh diperkirakan berada di kisaran 4,6 persen. Namun dengan adanya bencana, pertumbuhan berpotensi turun, meski tetap diharapkan berada di atas 4 persen.

“Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi 2025 masih dapat dijaga sekitar 4,3 persen,” ujar Agus.

Untuk 2026, BI Aceh memandang prospek ekonomi akan semakin membaik seiring normalisasi aktivitas ekonomi dan efektivitas program pemulihan.
“Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali meningkat ke kisaran 4,4 hingga 4,5 persen,” katanya.

Selain stimulus fiskal, Agus menekankan pentingnya peran sektor perbankan dalam mempercepat pemulihan. Salah satu usulan yang mengemuka adalah optimalisasi penempatan dana di daerah untuk memperkuat penyaluran pembiayaan.

“Usulan dari perbankan ini akan kami sampaikan ke kantor pusat untuk dikaji lebih lanjut, karena berpotensi mempercepat aliran pembiayaan ke sektor riil,” ujarnya.

Meski demikian, BI Aceh mengingatkan masih adanya risiko eksternal yang dapat memengaruhi kinerja ekonomi daerah.

“Faktor global yang terjadi saat ini juga tetap menjadi tantangan karena berada di luar kendali kebijakan daerah maupun nasional,” kata Agus. (Hulwa)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE