EkonomiNusantara

BI Tahan Bunga Acuan Di Level 4,75 Persen

BI Tahan Bunga Acuan Di Level 4,75 Persen
Gubernur BI Perry Warjiyo /ist
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate pada level 4,75% di tengah tekanan pada nilai tukar rupiah. Begitu juga dengan suku bunga deposit facility tetap 3,75%, dan suku bunga lending facility tetap sebesar 5,50%.

“Rapat Dewan Gubernur BI pada 20 dan 21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers secara daring BI Januari 2026, Rabu (21/1/2026).

Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap independensi otoritas moneter itu, terkait nama Thomas Djiwandono (keponakan Prabowo Subianto) yang di gadang-gadang masuk bursa calon Deputi BI menggantikan Juda Agung.

Namun Perry menegaskan, keputusan bunga acuan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini, yaitu untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global dan guna mendukung sasaran inflasi 2026—2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sebagai informasi, berdasarkan data Bloomberg rupiah ditutup melemah tipis 0,01% atau 68 poin ke level Rp16.956 per dolar AS pada Selasa (20/1/2026). DI saat bersamaan, indeks dolar AS juga melemah 0,74% ke level 98,66.

Kekhawatiran pasar tersebut muncul seiring pelemahan rupiah yang jatuh ke level terendah sepanjang sejarah mendekati Rp 17.000 per dolar AS

Kembali dikutip dari Bloomberg, sebanyak 32 ekonom yang di survei memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75.

Namun, sebagian besar proyeksi tersebut dibuat sebelum munculnya kabar bahwa Presiden Prabowo Subianto menominasikan keponakannya, Thomas Djiwandono, untuk menduduki posisi orang nomor tiga tertinggi di bank sentral.

Kredit Tumbuh

Dalam kesempatan tersebut, Perry
melaporkan, posisi kredit pada Desember 2025 sebesar 9,69% secara tahunan (year on year/YoY), tumbuh dibandingkan bulan lalu yang hanya tumbuh 7,74%.

Menurutnya, pertumbuhan kredit pada Desember 2025 berada di kisaran target kredit 2025 yang ditetapkan otoritas moneter, yakni di kisaran 8-11% YoY.

“Kredit perbankan tumbuh sebesar 9,96% YoY, berada dalam kisaran perkiraan Bank Indonesia sebesar 8-11% ” ujar Perry.

Berdasarkan kelompok penggunaan, Perry mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing sebesar 21.06%, 4,52%, dan 6,58%.

Dikatakan, capaian itu sejalan dengan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat kebijakan likuiditas makroprudensial serta realisasi program prioritas pemerintah di tengah kondisi makro dan keuangan yang terjaga. Dari sisi permintaan,

Perry menyebut bahwa pelaku usaha terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan).

BI mencatat, fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada Desember 2025 masih besar, yaitu mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12% dari plafon kredit yang tersedia.

Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 28,57% dan DPK yang tumbuh sebesar 13,83% (yoy) pada Desember 2025.

Perry memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2026 akan semakin tinggi yakni di kisaran 8%-12%. Untuk itu pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan KSSK guna memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit perbankan. (Id88)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE