JAKARTA (Waspada.id): PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, atau BTN sempat mengalami penurunan laba hingga 14,1 persen pada 2024. Hal ini disebabkan dampak proses downgrade kredit hasil restrukturisasi pandemi Covid-19.
“Memasuki 2025, setelah proses tersebut dinyatakan bersih, kinerja kembali normal dengan mengalami pertumbuhan laba,” ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Dia menerangkan, pada 2025 laba bersih perseroan mulai naik berkisar 16,8 – 18 persen, dibandingkan kinerja laba tahun 2024 yang masih menanggung restrukturisasi Covid-19.
“Makanya 2024 labanya turun dibanding 2023,. Tapi 2025 naik lagi karena sudah bersih, maka angka-angkanya kembali normal, tumbuh labanya juga sudah double digit kembali,” jelas dia.
Ia menuturkan, capaian laba sepanjang tahun lalu sejalan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga, kredit, hingga pendapatan berbasis komisi (fee based income).
“Laba bersih kami masih naik 16,8 persen, bahkan 18 persen sampai akhir tahun. Total revenue kami juga tumbuh 18 persen, jadi memang ini sedikit membaik dibanding 2024,” ujar Nixon
Dielaskan, dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari pemerintah telah dialokasikan kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Sehingga penyaluran kredit tercatat tumbuh hampir 12 persen di akhir tahun lalu.
“Jadi ini buktikan bahwa dana SAL itu jadi kredit dan KPR, duit ini memang benar-benar diserap oleh konsumen kami diperkreditan,” kata dia.
Kemudian, dana pihak ketiga atau DPK tercatat tumbuh 16 persen, dan fee based income tumbuh 14 persen dengan nilai di atas Rp 4 triliun.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) BTN disebut menurun menjadi 3,08 persen pada akhir tahun, dan cost to income ratio membaik secara signifikan menjadi 47 persen.
“Dari sisi aset, aset kami masih tumbuh double digit bahkan di akhir tahun tumbuh 12,7 persen,” terang Nixon. (Id88)










