Ekonomi

BTN Targetkan Laba Bersih Tumbuh 22 Persen Di 2026

BTN Targetkan Laba Bersih Tumbuh 22 Persen Di 2026
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id):
Dihadapan anggota Komisi VI DPR RI, menejemen PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menargetkan laba bersih tumbuh 20-22 persen year on year (yoy) di tahun 2026.

Direktur Utama (Dirut) BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, penyaluran kredit perseroan ditargetkan tumbuh 8-9 persen (yoy) pada 2026, dengan non performing loan (NPL) berada di bawah tiga persen.

“Untuk net profit kita masih berani tulis 20-22 persen, karena memang masalah-masalah kredit yang di masa lalunya sudah selesai. Jadi sudah bersih,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks DPR RI, Jakarta, di kutip Selasa (26/1/2026).

BTN sempat mengalami penurunan laba hingga 14,1 persen pada 2024. Hal ini disebabkan dampak proses downgrade kredit hasil restrukturisasi pandemi Covid-19.

“Memasuki 2025, setelah proses tersebut dinyatakan bersih, kinerja BTN kembali normal dengan mengalami pertumbuhan laba,” ungkap Nixon.

Dia jelaskan, pada 2025 laba bersih perseroan mulai naik berkisar 16,8 – 18 persen, dibandingkan kinerja laba tahun 2024 yang masih menanggung restrukturisasi Covid-19.

Untuk tahun ini, lanjut Nixon, pihaknya menargetkan pertumbuhan deposit sebesar 7-8 persen, dengan biaya dana atau cost of fund berada di level 3,6 persen, serta beban kredit di kisaran 1-1,2 persen.

“Kemudian cost of fund-nya juga kita turunkan di bawah 3,6 persen. Cost of credit-nya bisa naik sedikit jadi 1-1,2 persen, dan NPL pertama kali nanti kita di bawah 3 persen,” ujar Nixon.

Pada 2025 hingga periode November, BTN membukukan laba bersih sebesar Rp2,91 triliun, atau tumbuh 21,10 persen (yoy) dibandingkan periode sama tahun sebelumnya senilai Rp2,40 triliun.

Pertumbuhan laba bersih perseroan ditopang oleh kredit dan pembiayaan yang disalurkan senilai Rp386,47 triliun hingga 30 November 2025, atau naik 8,74 persen (yoy) dari sebelumnya Rp355,42 triliun.

Perseroan membukukan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), seiring dengan upaya perseroan meningkatkan pendanaan terutama dana murah atau current account and saving account (CASA).

Per November 2025, DPK perseroan meningkat 15,77 persen (yoy) menjadi Rp 423,96 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp366,22 triliun.

Nixon menuturkan, capaian laba sepanjang tahun lalu sejalan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga, kredit, hingga pendapatan berbasis komisi (fee based income).

“Laba bersih kami masih naik 16,8 persen, bahkan 18 persen sampai akhir tahun. Total revenue kami juga tumbuh 18 persen, jadi memang ini sedikit membaik dibanding 2024,” ujar Nixon

Sedangkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari pemerintah telah dialokasikan kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Sehingga penyaluran kredit tercatat tumbuh hampir 12 persen di akhir tahun lalu.

“Jadi ini buktikan bahwa dana SAL itu jadi kredit dan KPR, duit ini memang benar-benar diserap oleh konsumen kami diperkreditan,” urainya.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) BTN disebut menurun menjadi 3,08 persen pada akhir tahun, dan cost to income ratio membaik secara signifikan menjadi 47 persen.

“Dari sisi aset, aset kami masih tumbuh double digit bahkan di akhir tahun tumbuh 12,7 persen,” terang Nixon. (id88)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE