JAKARTA, ( Waspada.id); 28 Januari 2026 – Di ajang Cisco Connect Indonesia 2026 yang diselenggarakan hari ini, para pemimpin industri, pakar teknologi, serta Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) Nezar Patria berkumpul untuk membahas masa depan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia, serta langkah-langkah strategis yang dibutuhkan untuk merealisasikan nilai dari AI. Acara ini menjadi momentum peluncuran temuan terbaru Cisco terkait infrastruktur AI melalui AI Readiness Index 2025, yang menyoroti bahwa 40% dari organisasi di Indonesia berisiko kehilangan nilai akibat munculnya ancaman “AI Infrastructure Debt” (Utang Infrastruktur AI).
Riset terbaru dari AI Readiness Index menunjukkan tingkat kesiapan organisasi yang berbeda-beda. Hanya sebagian kecil, sekitar 13% perusahaan di tingkat global, yang dikenal sebagai AI Pacesetters, berada di garis depan. Kelompok ini mengambil keputusan infrastruktur fundamental yang menciptakan keunggulan berkelanjutan, dan 97% di antaranya telah mengimplementasikan AI pada skala dan kecepatan yang dibutuhkan untuk membuka berbagai use case serta mencapai return on investment (ROI). Sementara itu, banyak organisasi menghadapi risiko-risiko akibat “AI Infrastructure Debt”, yang bisa berpengaruh pada kemampuan mereka untuk realisasi value.
“Pilihan infrastruktur yang diambil perusahaan hari ini akan menentukan apa yang bisa mereka capai di masa depan. Para pemimpin AI merancang arsitektur secara berbeda—dan para Pacesetters membuktikannya,” ujar Cin Cin Go, Managing Director Cisco Indonesia yang baru menjabat sejak Desember lalu. “Mereka membangun fondasi yang berorientasi pada jaringan, memprioritaskan infrastruktur daya, melakukan optimalisasi secara berkelanjutan, serta mengintegrasikan keamanan sejak awal. Melalui forum seperti Cisco Connect, kami membuka ruang bagi organisasi untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan memperoleh insight praktis tentang apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menjadi AI-ready serta bersama-sama membentuk masa depan AI Indonesia.”
Biaya Kumulatif dari Utang Infrastruktur AI
Pacesetters melaju lebih cepat bukan semata karena berinvestasi lebih besar, tetapi karena melakukan investasi infrastruktur lebih awal, sehingga terhindar dari AI Infrastructure Debt, utang infrastruktur AI yang berpotensi menghambat inovasi serta meningkatkan risiko operasional dan keamanan bagi organisasi.
Indeks ini memperingatkan bahwa tanda-tanda awal sudah terlihat di Indonesia—banyak organisasi menerapkan agen AI lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk mengamankannya. Hanya 29% yang menilai jaringannya optimal, sementara 43% masih kekurangan infrastruktur daya, padahal hampir separuh dari mereka memperkirakan pertumbuhan beban kerja AI lebih dari 50%.
Empat Pilihan Arsitektur yang Membedakan Pemimpin AI dari yang Lain
Cisco mengidentifikasi empat pilihan arsitektur utama berdasarkan AI Readiness Index yang membedakan para pemimpin AI:
- Mengantisipasi keterbatasan daya sebelum menjadi hambatan
Lebih dari separuh organisasi di Indonesia memperkirakan beban kerja AI akan meningkat lebih dari 50% dalam tiga hingga lima tahun ke depan, namun banyak di antaranya yang belum memiliki infrastruktur daya yang memadai untuk mendukung pertumbuhan tersebut. Sebanyak 96% Pacesetters global telah membangun infrastruktur khusus untuk mengoptimalkan konsumsi daya, dibandingkan dengan 57% organisasi di Indonesia yang disurvei.
- Menjadikan jaringan sebagai fondasi, bukan sekadar pelengkap
Saat sebagian besar organisasi masih berfokus pada komputasi, para Pacesetters justru memprioritaskan infrastruktur jaringan untuk mencegah terjadinya bottleneck. Sebanyak 81% Pacesetters menilai jaringan mereka sudah “optimal” untuk mendukung beban kerja AI, dibandingkan dengan 29% organisasi di Indonesia. Lebih banyak Pacesetters yang telah sepenuhnya mengintegrasikan AI dengan jaringan (79%), dibandingkan dengan cloud (61%). Sementara itu, organisasi di Indonesia melaporkan tingkat integrasi yang serupa namun lebih rendah, yakni 51% untuk jaringan dan 41% untuk cloud, tanpa prioritas yang jelas.
- Mengakui pentingnya optimalisasi berkelanjutan
Pacesetters menganggap penerapan model AI sebagai titik awal, bukan garis akhir. Sebanyak 72% Pacesetters memanfaatkan pemantauan berkelanjutan dengan retraining otomatis, dibandingkan 38% secara keseluruhan di Indonesia, sehingga mereka dapat memperbarui model hampir secara instan tanpa downtime. Keunggulan ini terus terakumulasi: organisasi yang mampu melakukan optimalisasi 3–4 kali lebih cepat mampu menjalankan lebih dari 50 siklus optimalisasi per tahun, dibandingkan 12 hingga 15 siklus.
- Membangun keamanan yang mendukung kecepatan, bukan menghambatnya
Pacesetters membangun keamanan sebagai bagian dari infrastruktur. Sebanyak 84% Pacesetters global telah menerapkan enkripsi end-to-end dengan pemantauan berkelanjutan, dibandingkan 56% organisasi di Indonesia secara keseluruhan. Pendekatan ini menjadi semakin krusial dengan hadirnya agen AI: sebanyak 97% organisasi di Indonesia telah menerapkan agen AI otonom, namun hanya 42% yang mampu mengamankannya dengan baik. Pada Pacesetters, 96% telah menerapkan agen AI dan 75% mampu mengamankannya—masih terdapat kesenjangan, namun lebih terkendali karena keamanan dirancang sejak awal, bukan ditambahkan belakangan.
Cisco: Infrastruktur yang Krusial di Era AI
Seiring percepatan perjalanan AI oleh enterprise dan sektor publik di Indonesia, Cisco Connect Indonesia menegaskan peran Cisco sebagai penyedia infrastruktur yang krusial untuk era AI. Melalui sesi pendalaman dan demo langsung, Cisco memperlihatkan bagaimana perusahaan ini telah menyederhanakan proses implementasi AI melalui portofolio terintegrasi untuk menghadirkan pusat data yang AI-ready, lingkungan kerja yang siap menghadapi masa depan, serta ketahanan digital.
Sebagai pemimpin teknologi global, Cisco terus berinovasi dalam skala besar dan menghadirkan berbagai platform serta solusi baru ke pasar, termasuk platform komputasi edge yang AI-ready, Cisco Unified Edge, arsitektur AI tervalidasi, Secure AI Factory bersama NVIDIA, serta beragam kemampuan jaringan generasi berikutnya. Semua ini direncang untuk memastikan organisasi di Indonesia siap mengimplementasikan dan menerapkan AI, apa pun jalur yang mereka pilih.
Tentang Cisco AI Readiness Index 2025
Cisco AI Readiness Index 2025 merupakan studi global yang kini memasuki tahun ketiga. Studi ini didasarkan pada survei double-blind terhadap 8.000 pemimpin senior IT dan bisnis yang bertanggung jawab atas strategi AI di organisasi dengan lebih dari 500 karyawan, mencakup 30 pasar dan 26 industri. Laporan pertama dari indeks ini mengungkapkan bahwa Pacesetters memiliki kemungkinan empat kali lebih besar dibandingkan organisasi lain dalam mencatat peningkatan kinerja finansial dan produktivitas.
Bagaimana Organisasi Mengetahui Apakah Mereka Termasuk AI Pacesetter
AI Readiness Index Cisco mengungkap bagaimana para pemimpin mengombinasikan pilihan infrastruktur dengan keunggulan menyeluruh dalam strategi, data, talenta, budaya, dan tata kelola. Organisasi dapat mengukur posisi mereka melalui Cisco AI Readiness Assessment Tool.(id12)











