MEDAN (Waspada.id): Sejumlah rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya sempat tertunda akhirnya dirilis dan menunjukkan angka yang masih sejalan dengan ekspektasi pasar. Meski demikian, inflasi inti AS tercatat mengalami kenaikan pada November lalu, kondisi yang berpotensi mengikis ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, Jumat (23/1/2026), mengatakan bahwa pasar keuangan global sejauh ini merespons data tersebut secara relatif tenang. Hal ini tercermin dari pergerakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang bergerak datar dan stabil di kisaran level 4,25 persen.
“Respons pasar terhadap data ekonomi AS masih cenderung netral. Imbal hasil US Treasury tidak banyak bergerak, demikian juga dengan USD Index yang stabil di kisaran 98,3,” ujar Gunawan.
Kondisi tersebut dinilai belum menjadi ancaman bagi pergerakan mata uang Rupiah. Pada perdagangan hari ini, Rupiah terpantau menguat dan ditransaksikan di kisaran level Rp16.845 per dolar AS.
Menurut Gunawan, pelaku pasar saat ini masih menunggu sinyal lanjutan untuk memastikan arah kebijakan suku bunga acuan ke depan, apakah akan dipertahankan atau justru diturunkan.
Sementara itu, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan tekanan. Pada sesi pembukaan perdagangan, IHSG sempat menguat ke level 9.031. Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama, karena IHSG kembali bergerak di zona merah dan bahkan sempat melemah hingga level 8.868, yang menjadi level terburuk IHSG sejauh ini.
“Melemahnya IHSG cukup kontras dengan mayoritas bursa saham Asia yang justru bergerak menguat. Ini menandakan adanya tekanan domestik yang masih cukup kuat,” jelasnya.
Selain menantikan rilis data ekonomi, pasar juga mencermati perkembangan terkait proses wawancara kandidat Gubernur Bank Sentral AS.
Ketidakpastian terkait kepemimpinan The Fed ke depan dinilai turut memperburuk sentimen pasar, meskipun terdapat persepsi bahwa peluang pemangkasan suku bunga bisa lebih cepat jika terjadi pergantian pimpinan.
Di sisi lain, ketidakpastian global tidak hanya datang dari sektor moneter, tetapi juga dari kondisi geopolitik yang semakin tidak menentu. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh emas sebagai aset lindung nilai untuk kembali menguat.
Pada perdagangan pagi ini, harga emas tercatat naik ke kisaran USD 4.955 per ons troy dan kembali mencetak rekor tertinggi baru. Gunawan menilai harga emas masih berpeluang menembus level psikologis USD 5.000 per ons troy dalam waktu dekat. Jika dirupiahkan, harga emas saat ini berada di kisaran Rp2,7 juta per gram.
“Emas masih menjadi pilihan utama investor di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global,” pungkasnya. (id09)










