Ekonomi

Data Inflasi AS Akan Jadi Penggerak Pasar, IHSG Dan Emas Melemah

Data Inflasi AS Akan Jadi Penggerak Pasar, IHSG Dan Emas Melemah
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan global kembali bergerak fluktuatif setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan. Kondisi ini turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga emas, sementara pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi AS sebagai penentu arah selanjutnya.

Berdasarkan data terbaru, klaim pengangguran awal (initial jobless claims) AS meningkat menjadi 227 ribu, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 222 ribu. Selain itu, penjualan perumahan pada Januari juga tercatat melambat secara tahunan dan terkontraksi 8,4% secara bulanan.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai memburuknya sejumlah data ekonomi tersebut memicu penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke kisaran 4,15%.

“Data tenaga kerja dan sektor perumahan yang melemah mendorong penurunan imbal hasil US Treasury. Namun pasar masih berhati-hati karena fokus utama tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis dalam waktu dekat,” ujar Gunawan.

Di sisi lain, kinerja indeks dolar AS (USD Index) terpantau bergerak volatil dalam rentang 96,6 hingga 96,9 pada sesi perdagangan pagi. Menurut Gunawan, tekanan terhadap dolar AS berpotensi menjadi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah.

Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat stabil di kisaran Rp16.810 per dolar AS. Gunawan memproyeksikan mata uang Garuda akan bergerak dalam rentang Rp16.780 hingga Rp16.830 sepanjang sesi perdagangan.

“Pelemahan dolar AS membuka ruang penguatan rupiah, meskipun tetap dibayangi sentimen global dan dinamika data ekonomi AS,” jelasnya.

Sementara itu, IHSG dibuka melemah ke level 8.240, mengikuti koreksi mayoritas bursa saham Asia. Tekanan eksternal dinilai masih mendominasi pergerakan indeks domestik.

Terpisah, harga emas dunia juga kembali tertekan di tengah rilis data ekonomi AS yang beragam. Saat ini, harga emas ditransaksikan di kisaran US$4.972 per ons troy atau sekitar Rp2,7 juta per gram.

Gunawan menambahkan, pasar keuangan dan komoditas masih berpotensi bergerak sangat volatil seiring realisasi data ekonomi AS yang bervariasi.

“Dari sekian banyak data ekonomi pekan ini, inflasi AS akan menjadi penentu utama arah pasar dalam jangka pendek. Jika inflasi kembali menguat, ekspektasi penurunan suku bunga bisa tertunda dan memicu gejolak baru di pasar,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE