Ekonomi

Data Klaim Pengangguran AS Membaik, IHSG Dan Rupiah Tertekan Imbas Geopolitik

Data Klaim Pengangguran AS Membaik, IHSG Dan Rupiah Tertekan Imbas Geopolitik
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan perbaikan. Initial jobless claims terbaru tercatat sebesar 206 ribu, lebih rendah dari proyeksi pasar yang berada di angka 223 ribu. Secara fundamental, capaian ini mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih solid.

Namun demikian, perbaikan data tersebut belum mampu mengangkat sentimen pasar global, khususnya di kawasan Asia. Bursa saham Asia justru ditransaksikan melemah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan, Gunawan Benjamin, menilai bahwa pasar saat ini lebih sensitif terhadap risiko geopolitik dibandingkan data ekonomi jangka pendek.

“Data klaim pengangguran AS memang membaik dan itu positif. Tetapi pasar keuangan global sedang dibayangi tensi geopolitik antara AS dan Iran yang memanas. Ancaman penggunaan kekuatan militer memicu kekhawatiran investor,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Ketegangan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis WTI terpantau naik ke level USD 66,7 per barel. Kenaikan ini menjadi salah satu faktor yang membebani pasar saham dan mata uang di negara berkembang.

Di dalam negeri, IHSG pada sesi pembukaan perdagangan sempat menguat ke level 8.300. Namun tekanan eksternal membuat indeks berbalik arah dan bergerak di zona merah.

Menurut Gunawan, pelemahan bursa Asia berpotensi menyeret IHSG untuk bergerak dalam rentang 8.230 hingga 8.330 pada perdagangan hari ini.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah turut mengalami tekanan dan ditransaksikan melemah ke level Rp16.885 per dolar AS. Tekanan terhadap Rupiah tidak hanya dipengaruhi kenaikan harga minyak, tetapi juga penguatan dolar AS yang tercermin dari USD Index yang berada di level 97,96.

Di sisi lain, harga emas masih bergerak konsolidatif di kisaran USD 5.000 per troy ons atau sekitar Rp2,7 juta per gram. Logam mulia tersebut mendapatkan dukungan dari meningkatnya tensi geopolitik, meskipun pergerakannya masih dibayangi kebijakan bank sentral AS yang cenderung mempertahankan suku bunga acuannya.

“Emas tetap menjadi aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun ruang penguatannya masih terbatas karena pasar juga mempertimbangkan arah kebijakan suku bunga The Fed,” tutup Gunawan. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE