
TAKENGON (Waspada.id) : Komunitas Desember Kopi Gayo kembali menghadirkan panggung kebudayaan masyarakat dataran tinggi melalui pertunjukan “Sengkewe Sepanjang Musim” yang akan digelar di Taman Inen Mayak Teri, Takengon, Sabtu malam, 4 April 2026, pukul 20.00–22.00 WIB.
Pertunjukan ini dirancang sebagai ruang artistik yang mempertemukan sastra, tradisi lisan, dan kehidupan masyarakat kopi Gayo dalam satu narasi panggung. Beragam unsur seni akan tampil secara terpadu, mulai dari sebuku, didong banan, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, hingga tari kopi yang merepresentasikan denyut kehidupan masyarakat di kawasan penghasil kopi arabika terbaik Indonesia tersebut.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Komunitas Desember Kopi Gayo dalam menghidupkan kembali ruang publik sebagai panggung ekspresi budaya masyarakat. Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP sebagai bentuk penguatan ekosistem seni berbasis komunitas di daerah.
Tidak hanya menghadirkan pertunjukan, rangkaian kegiatan Sengkewe Sepanjang Musim juga dilengkapi Dialog Sengkewe pada 3 April 2026 di Kem Pegayon, Bener Meriah. Dialog ini menghadirkan petani perempuan Gayo serta pelaku usaha kopi perempuan sebagai narasumber utama, sekaligus dirangkaikan dengan kunjungan edukasi kebun kopi Pegayon dan pengenalan proses pengolahan kopi di pabrik kopi setempat.
Ketua Komunitas Desember Kopi Gayo, Fikar W. Eda, menyampaikan bahwa kegiatan ini menempatkan perempuan sebagai pusat narasi kebudayaan kopi Gayo.
“Sebagian besar proses kopi di Tanah Gayo dikerjakan oleh perempuan. Karena itu penting menghadirkan pengalaman hidup mereka sebagai bagian utama dari panggung kebudayaan,” ujarnya di Takengon, Jumat (27/3/2026).
Selain pertunjukan dan dialog budaya, tim kreatif juga sedang memproduksi film dokumenter pendek tentang kehidupan Uni Inen Iko, seorang perempuan Gayo yang menopang ekonomi keluarga melalui kerja di kebun kopi, sortir biji kopi, hingga menjadi tenaga panen di kebun warga. Film ini menjadi bagian dari upaya dokumentasi sosial perempuan dalam ekosistem kopi Gayo.
Tim kreatif pertunjukan Devie Matahari menjelaskan bahwa panggung Sengkewe Sepanjang Musim disusun sebagai perjalanan dramatik masyarakat Gayo menghadapi bencana, kehilangan, dan harapan untuk bangkit kembali.
“Pertunjukan ini lahir dari pengalaman nyata masyarakat. Ada ratapan, ada kehilangan, tetapi juga ada kerja bersama dan harapan yang terus dirawat,” katanya.
Struktur pertunjukan dimulai dengan bunyi canang sebagai penanda datangnya kabar duka, dilanjutkan ratapan sebuku perempuan Gayo, dialog petani tentang kebun yang rusak akibat bencana, hingga bagian akhir yang menggambarkan kebangkitan melalui solidaritas dan budaya kopi sebagai sumber kehidupan.
Melalui panggung ini, Komunitas Desember Kopi Gayo tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga merawat tradisi lisan dan memperkuat kembali ingatan kolektif masyarakat Gayo tentang hubungan antara kopi, perempuan, dan ketahanan budaya di tengah perubahan zaman. (id89)













