Ekonomi

Dihantam Sentimen Negatif, Harga CPO Kembali Terpuruk

Dihantam Sentimen Negatif, Harga CPO Kembali Terpuruk
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali tertekan pada perdagangan Kamis (15/1/2026). Tekanan ini membuat harga CPO mencatat penurunan tiga sesi berturut-turut, seiring derasnya sentimen negatif yang membayangi pasar.

Melemahnya harga minyak nabati pesaing, penurunan harga minyak mentah dunia, hingga rencana Indonesia membatalkan program biodiesel B50 menjadi faktor utama yang menekan pergerakan harga minyak sawit.

Mengutip investor.id, data BMD menunjukkan kontrak berjangka CPO Februari 2026 turun 39 ringgit Malaysia ke level 3.961 ringgit Malaysia per ton. Kontrak Maret 2026 bahkan anjlok 60 ringgit Malaysia menjadi 3.980 ringgit Malaysia per ton.

Tekanan juga terjadi pada kontrak bulan berikutnya. Kontrak April 2026 turun 69 ringgit Malaysia ke 3.990 ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Mei 2026 melemah 72 ringgit Malaysia menjadi 3.997 ringgit Malaysia per ton.

Adapun kontrak Juni 2026 terpangkas 68 ringgit Malaysia ke 3.998 ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Juli 2026 juga turun 68 ringgit Malaysia menjadi 3.992 ringgit Malaysia per ton.

Analis Komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, mengatakan penurunan harga CPO tidak lepas dari merosotnya harga minyak nabati global.

“Harga minyak sawit mentah mengikuti penurunan tajam minyak nabati China dan minyak kedelai Chicago, seiring dengan melemahnya harga minyak mentah,” ujar Bagani, dikutip dari TradingView.

Selain itu, keputusan pemerintah Indonesia yang membatalkan mandatori biodiesel B50 turut menekan harga CPO karena mengurangi premi harga minyak sawit di pasar global.

Program Biodiesel Jadi Sorotan

Pemerintah Indonesia memutuskan tetap menjalankan program B40 pada tahun ini dan membatalkan rencana penerapan B50, dengan alasan keterbatasan teknis dan pendanaan. Kebijakan ini dinilai meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi ketatnya pasokan minyak sawit dunia.

“Pasar saat ini menunggu data produksi serta kinerja ekspor minyak sawit pada paruh pertama Januari,” kata Bagani.

Sementara itu, surveyor kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–15 Januari meningkat sekitar 17,5% hingga 18,6% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.

Di sisi lain, tekanan juga datang dari bursa global. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif turun 0,68%, sementara kontrak minyak sawit merosot 2,03%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turut terkoreksi 0,98%.

Harga minyak sawit cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena saling bersaing di pasar minyak nabati global.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia melemah dari level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel, sehingga menambah tekanan pada harga CPO. (Invid)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE