HUMBANG HASUNDUTAN (Waspada.id): Dosen Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan melakukan penelitian bersama dengan Louis Dreyfus Company (LDC) mengenai kesinambungan perkebunan budidaya kopi arabica di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pemetaan menyeluruh tentang sumber emisi di setiap tahap mulai dari proses budidaya, panen dan penanganan pasca panen, rantai pasok, serta strategi mitigasi yang sesuai dengan kondisi lokal dan dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia.
Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang mengatakan bahwa Polbangtan Medan memiliki peran strategis dalam memajukan sektor pertanian di Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan vokasi, Polbangtan dinilai mampu mencetak sumber daya manusia yang terampil, inovatif, dan siap menghadapi tantangan dunia pertanian modern.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti. Ia menegaskan pentingnya pendidikan berbasis kebutuhan industri untuk menghasilkan tenaga kerja yang mampu menerapkan teknologi modern di bidang pertanian.
Dalam pelaksanaan kegiatan ini, peneitian dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan mulai November 2025 hingga Januari 2026. Tim Peneliti yang terdiri dari dosen Polbangtan Medan telah melakukan penelusuran Jejak Karbon Dasar (Baseline Carbon Footprint) produksi per kg biji kopi hijau (green bean) di tingkat petani kecil mitra LDC di Humbang Hasundutan.
Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap mengatakan, hasil penelitian ini untuk perumusan model mitigasi, serta merumuskan rekomendasi program yang spesifik yang dapat ditindaklanjuti LDC untuk mendukung penerapan dan peningkatan model pengurangan emisi karbon bagi para petani kopi arabika.
“Harapannya, hasil riset ini dapat berkontribusi untuk mendukung produktivitas dan hilirisasi komoditi perkebunan khususnya kopi arabika di Provinsi Sumatera Utara,” ujar Nurliana.
Salah satu dosen yang ikut penelitian, Dedi Wahyudi, yang juga Kaprodi Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan Polbangtan Medan, mengatakan perubahan iklim global saat ini telah berdampak nyata terhadap produktivitas dan keberlanjutan sistem produksi khususnya pada tanaman kopi.
“Peningkatan suhu rata-rata, ketidakpastian curah hujan, serta kejadian cuaca ekstrem seperti kekeringan atau hujan berkepanjangan menyebabkan penurunan produktivitas, peningkatan serangan hama penyakit, dan penurunan mutu biji kopi,” ujarnya.
Selama lima tahun terakhir, Louis Dreyfus Company (LDC) telah melaksanakan inisiatif kopi berkelanjutan di Kabupaten Humbang Hasundutan, yang mencakup 4 kecamatan sebagai daerah penghasil kopi utama. LDC secara aktif membina 428 orang petani, dengan 116 orang diantaranya menerima bimbingan intensif yang terbagi dalam 5 kelompok tani.
“Program ini memberikan pelatihan kepada petani tentang Praktik Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices/ GAP), manajemen agribisnis, dan pencatatan pertanian. Namun, meskipun ada kemajuan, jejak karbon di tingkat petani masih belum diketahui karena pencatatan data yang tidak konsisten, terutama terkait penggunaan input, produksi, dan konsumsi bahan bakar,” ungkap Ketua Tim Peneliti, Rahmi Eka Putri, Ketua Jurusan Perkebunan Politeknik Pembangunan Pertanian Medan.
Sementara itu, Azis Herdiyanto Riyadi, yang juga Kaprodi Penyuluhan Perkebunan Presisi, bahwa faktanya kondisi petani kopi kecil di Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki akses informasi yang masih terbatas, menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan praktik pertanian rendah karbon. Kurangnya pengetahuan mengenai praktik pertanian berkelanjutan dan teknologi mitigasi iklim mengakibatkan petani kesulitan dalam memenuhi standar keberlanjutan yang ditetapkan pasar global.
“Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting dilakukan untuk mengembangkan model pemberdayaan petani untuk pengurangan jejak karbon dan mitigasi dampak iklim dalam rantai pasok kopi arabika berkelanjutan, dengan studi kasus pada kemitraan dengan petani kecil di Humbang Hasundutan,” ujar Puji Wahyu Mulyani, salah satu dosen Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Kepala Laboratorium Penyuluhan Polbangtan Medan.
Merlyn Mariana, selaku pakar budidaya kopi arabika (Dosen Prodi Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan) mengemukakan bahwa melalui penelitian ini diharapkan diperoleh pemetaan menyeluruh tentang sumber emisi di setiap tahap mulai dari proses budidaya, panen dan penanganan pasca panen, rantai pasok, serta strategi mitigasi yang sesuai dengan kondisi lokal dan dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia.
“Para petani kopi arabika perlu mengubah kebiasaan baru untuk beradaptasi terhadap kondisi iklim yang ekstrim dan pemanasan global sehingga produktivitas kopi arabika dapat tercapai optimal,” tandasnya. (id09)










