JAKARTA (Waspada.id): Danantara Indonesia menilai perekonomian global pada 2026 akan berada dalam fase perlambatan yang berkepanjangan, meski risiko guncangan ekstrem dinilai mulai mereda.
Dalam laporan Danantara Economic Outlook 2026, tahun 2025 menjadi titik krusial bagi sistem perdagangan dan keuangan global yang sempat mengalami tekanan berat, namun terbukti tetap bertahan.
Danantara mencatat kebijakan proteksionisme, ketegangan geopolitik, serta pengetatan kondisi keuangan global telah mengguncang kepercayaan pelaku usaha dan investor. Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa sistem global tidak runtuh, melainkan memasuki fase penyesuaian baru.
“Ketika para sejarawan ekonomi di masa depan melihat kembali tahun 2025, mereka akan mengidentifikasikannya sebagai tahun ketika sistem perdagangan dan keuangan global menerima pukulan yang tampak mematikan namun tetap bertahan,” tulis Danantara dalam laporannya yang dilansir dari liputan6.com, Senin (12/1).
Memasuki 2026, ketidakpastian global dinilai mulai menurun, meskipun tingkatnya masih relatif tinggi. Namun, tantangan baru muncul karena mesin pertumbuhan di berbagai ekonomi utama melemah secara bersamaan.
Amerika Serikat dinilai menghadapi risiko stagflasi akibat kombinasi kebijakan tarif, kebijakan imigrasi, dan siklus bisnis pascapandemi yang semakin matang. Sementara itu, Eropa dan Jepang dihadapkan pada tekanan kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang yang membatasi ruang fiskal.
China juga disebut mengalami moderasi pertumbuhan setelah stimulus fiskal dan dorongan kredit yang dilakukan untuk mengantisipasi dampak tarif Amerika Serikat mulai berkurang. Kondisi ini menambah risiko perlambatan global yang lebih luas pada 2026.
Danantara menyebut fase ini sebagai periode transisi, di mana ekonomi global bergerak dari fase gejolak menuju stagnasi relatif. Dalam laporan tersebut ditegaskan, “Kisah 2026, dengan demikian, sebagian adalah tentang kembalinya status quo sebelumnya.”
Meski prospek global cenderung melemah, Danantara melihat peluang tetap terbuka, khususnya bagi negara berkembang yang memiliki permintaan domestik kuat dan kredibilitas kebijakan yang semakin baik. Dalam konteks ini, ekonomi global diperkirakan akan membengkok mengikuti siklus baru, tetapi tidak terfragmentasi atau terpecah menjadi blok-blok yang terpisah.
Ditopang Suku Bunga Hingga Kebijakan Fiskal
Sebelumnya, Danantara Indonesia memproyeksikan kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi penopang utama perekonomian nasional pada 2026. Dalam laporan Danantara Economic Outlook 2026, disebutkan arah kebijakan pemerintah mulai bergeser dari fase penyesuaian dan pengetatan menuju strategi yang lebih mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
Sepanjang 2025, perekonomian Indonesia berada dalam fase konsolidasi akibat reprioritisasi anggaran, pengetatan likuiditas, serta transisi kebijakan di bawah pemerintahan baru. Kondisi tersebut sempat menekan pertumbuhan kredit dan konsumsi rumah tangga. Namun, memasuki paruh kedua 2025, berbagai indikator mulai menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Danantara menilai perubahan arah kebijakan fiskal akan menjadi salah satu katalis terpenting pada 2026, terutama melalui percepatan belanja negara dan penguatan permintaan domestik.
“Kebijakan fiskal diperkirakan akan beralih menjadi pro-pertumbuhan, didukung oleh eksekusi yang lebih kuat serta program-program unggulan yang memperkuat permintaan domestik,” menurut Danantara dalam laporannya, dikutip Senin (12/1/2026).
Salah satu faktor yang dinilai berperan besar adalah semakin solidnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dinilai tidak hanya mempercepat penyaluran belanja pemerintah, tetapi juga menciptakan dorongan permintaan yang lebih konsisten bagi perekonomian sepanjang 2026.
Di sisi moneter, Danantara melihat dampak pelonggaran kebijakan Bank Indonesia yang dilakukan sepanjang 2025 belum sepenuhnya tercermin dalam aktivitas ekonomi. Pemangkasan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 125 basis poin diperkirakan baru akan memberikan efek yang lebih nyata terhadap pertumbuhan kredit dan kegiatan usaha pada tahun depan.
“Pelonggaran moneter yang dilakukan pada 2025 akan sepenuhnya menyalurkan dampaknya, mendorong pertumbuhan kredit dan aktivitas bisnis,” tulis Danantara dalam laporan tersebut. (Lip6)











