Ekonomi

Emas Melonjak 1,36% Usai Serangan AS–Israel Ke Iran, Safe Haven Diburu

Emas Melonjak 1,36% Usai Serangan AS–Israel Ke Iran, Safe Haven Diburu
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia kembali menguat tajam pada perdagangan Senin (2/3/2026) pagi, menyusul serangan besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Eskalasi tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu gejolak baru di pasar global.

Mengutip Reuters, ketegangan geopolitik yang meningkat tajam mendorong investor memburu aset safe haven, dengan emas menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Harga emas spot melonjak 1,36% ke level US$ 5.350,23 per ons troi saat berita ini ditulis, setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari empat pekan. Bahkan pada awal sesi perdagangan, logam mulia tersebut sempat melesat hingga 2%.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga menguat 2,19% ke posisi US$ 5.362,69 per ons troi.

Situasi kawasan memanas setelah Israel melancarkan gelombang serangan lanjutan ke Teheran pada Minggu. Iran membalas dengan rentetan serangan rudal tambahan, sehari setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei mengguncang Timur Tengah sekaligus memperbesar risiko instabilitas global.

Analis pasar keuangan senior Capital.com, Kyle Rodda, menilai konflik kali ini berpotensi berlangsung lebih panjang dibanding eskalasi sebelumnya.

“Tidak seperti eskalasi sebelumnya, kali ini ada dorongan yang cukup kuat bagi kedua belah pihak untuk terus meningkatkan konflik. Risiko lingkungan pasar yang kacau, penuh ketidakpastian, dan volatil bisa berlangsung lebih dari beberapa hari. Dalam kondisi seperti ini, prospek emas menjadi sangat positif,” ujarnya.

Sepanjang 2025, emas telah mencatat reli spektakuler sekitar 64%, didorong oleh pembelian besar-besaran bank sentral, arus masuk kuat ke exchange-traded funds (ETF), serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS.

Pekan lalu, JPMorgan Chase dan Bank of America kembali menegaskan proyeksi bullish mereka terhadap emas. JPMorgan memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$ 6.000 per ons troi, bahkan bisa mencapai US$ 6.300 pada akhir 2026 jika permintaan bank sentral dan investor tetap kuat.

Analis independen Ross Norman menyebut emas sebagai barometer utama ketidakpastian global. “Kita memasuki era baru ketidakpastian geopolitik. Harga emas kemungkinan akan kembali mengalami penyesuaian ke rekor tertinggi baru,” katanya.

Di sisi lain, pasar juga mencermati data ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan harga produsen AS pada Januari naik lebih tinggi dari perkiraan, memunculkan potensi tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Investor kini menanti sejumlah rilis penting, termasuk laporan tenaga kerja ADP, klaim pengangguran mingguan, dan data non-farm payrolls.

Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya cenderung bervariasi. Harga perak spot turun tipis 0,01% menjadi US$ 93,77 per ons, platinum melemah 0,03% ke US$ 2.367,78 per ons, sedangkan paladium justru naik 1,22% ke US$ 1.809,98 per ons troi.

Lonjakan emas kali ini menegaskan perannya sebagai pelindung nilai di tengah badai geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global yang kian dalam. (invid)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE