MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan global dan domestik menunjukkan kinerja positif pada penutupan perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat signifikan, diikuti oleh penguatan nilai tukar rupiah serta lonjakan harga emas dunia yang kembali mencetak level tinggi.
IHSG ditutup naik 1,93% ke posisi 7.184,438, seiring dengan membaiknya mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Sentimen positif ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat yang berencana menarik diri dari konflik dengan Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Seiring meredanya ketegangan geopolitik, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan. Minyak jenis Brent tercatat berada di kisaran US$102 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan sedikit di bawah US$100 per barel.
Di pasar valuta asing, rupiah juga menunjukkan penguatan dengan ditransaksikan di level Rp16.975 per dolar AS. Meski demikian, rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dan kembali mendekati level Rp17.000 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai bahwa penguatan rupiah saat ini didorong oleh kombinasi faktor eksternal, termasuk melemahnya indeks dolar AS (USD Index) ke level 99,6 serta penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang turun ke 4,275%.
“Penurunan imbal hasil US Treasury memberikan ruang bagi pelemahan dolar AS, sehingga mata uang emerging market seperti rupiah mendapatkan sentimen positif. Namun, penguatan ini masih bersifat sementara dan sangat bergantung pada perkembangan global,” ujar Gunawan, Rabu (1/4).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral AS yang tidak sepenuhnya agresif (hawkish) turut menjadi katalis positif. Selain itu, harapan meredanya tekanan inflasi global jika konflik geopolitik benar-benar mereda juga ikut memperkuat optimisme pasar.
Di sisi lain, harga emas dunia kembali menunjukkan tren penguatan. Emas diperdagangkan di level US$4.719 per ons troy atau setara sekitar Rp2,58 juta per gram.
Menurut Gunawan, kenaikan harga emas ini mencerminkan perubahan sentimen pasar yang mulai mengantisipasi pelonggaran kebijakan moneter di masa depan.
“Emas sempat tertekan akibat lonjakan harga minyak sebelumnya, namun kini mulai berbalik arah. Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan menjadi pendorong utama kenaikan harga emas saat ini,” jelasnya.
Ke depan, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan geopolitik serta arah kebijakan bank sentral global yang akan sangat menentukan arah pergerakan aset keuangan, termasuk rupiah dan emas. (id09)










