JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia tiba-tiba berbalik arah dan anjlok tajam pada perdagangan Kamis (2/4/2026), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras terkait kelanjutan serangan militer terhadap Iran.
Setelah mencatat reli selama empat hari berturut-turut, harga emas langsung tertekan 1,73% ke level US$ 4.675,47 per ons troi. Bahkan, kontrak berjangka emas AS jatuh lebih dalam hingga 2,25% ke posisi US$ 4.703,22 per ons.
Padahal sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level tertinggi sejak 19 Maret, dengan kenaikan lebih dari 1%.
Sentimen pasar berubah drastis usai Trump dalam pidato nasionalnya menegaskan bahwa AS akan menggempur Iran “sangat keras” dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan tersebut langsung mengguncang optimisme pasar global yang sebelumnya mulai pulih.
“Emas terkoreksi setelah reli tajam dua hari terakhir. Nada agresif Trump menjadi pemicu utama perubahan arah pasar,” ujar Tai Wong, pedagang logam independen, dikutip dari Reuters.
Tekanan terhadap emas semakin besar seiring lonjakan harga minyak mentah jenis Brent crude oil yang naik lebih dari 4%. Selain itu, penguatan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun serta indeks dolar AS turut membuat emas kehilangan daya tariknya.
Sepanjang Maret, harga emas bahkan mencatat penurunan bulanan hingga 11%—terburuk sejak krisis finansial global 2008. Lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik memperparah tekanan inflasi dan mempersempit ruang gerak Federal Reserve dalam melonggarkan kebijakan moneter.
Di tengah ketidakpastian global, emas memang dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven). Namun, suku bunga tinggi justru menjadi “musuh” bagi emas karena meningkatkan biaya peluang bagi investor.
Presiden Federal Reserve Bank St Louis Alberto Musalem, menegaskan bahwa saat ini belum ada urgensi untuk mengubah kebijakan suku bunga meskipun risiko inflasi meningkat.
Tak hanya emas, tekanan juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak spot ambles 4,31% ke US$ 71,84 per ons, platinum turun 2,17% ke US$ 1.921,95, dan paladium terkoreksi 1,01% ke US$ 1.462,62 per ons.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar global masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Selama ketegangan antara AS dan Iran belum mereda, volatilitas harga komoditas—termasuk emas—diperkirakan akan tetap tinggi. (invid)










