Dari keterpurukan lahir kekuatan, dari solidaritas lahir keadilan.
BAYANGKAN ini: rumahmu—tempat anak-anak tumbuh, tempat istri menanti pulang, tempat kau berlabuh dari badai bisnis—tiba-tiba dihargai setara harga mobil bekas. Bukan karena memang murah, tapi karena mafia lelang sudah mengatur skor. Di Medan, cerita ini bukan fiksi. Ini keseharian ratusan, mungkin ribuan pengusaha yang terjebak kredit macet. Dan satu nama menjadi sandaran mereka: KKM.
Enam tahun lalu, tepatnya 2018, So Tjan Peng bukan siapa-siapa. Cuma pengusaha biasa yang bangkrut dan babak belum “dibantai” bunga kredit yang tak manusiawi. Bank menarik tali, debt collector mengintai, dan rumahnya terancam dilelang dengan harga ngawur. Tapi alih-alih tenggelam, So Tjan Peng memilih “meledak”—dengan cara yang tak terduga.
“Waktu itu saya berpikir, saya sudah bangkit—kenapa saya tidak bantu orang lain yang bernasib sama?” kenangnya dalam perayaan ulang tahun KKM ke-6 di Restaurant Royal Thamrin, Rabu (11/3/2026). Dari situ, Komunitas Kredit Macet (KKM) lahir. Bukan di kantor mewah, tapi di media massa dan media sosial. Bukan dengan modal besar, tapi dengan niat ngotot .
Mafia Lelang, Musuh Bersama
KKM bukan komunitas curhat . Ini adalah perlawanan terstruktur. “Kita bukan melawan bank. Tapi kita melawan mafia lelang. Kita lawan sistem yang memanfaatkan kesulitan debitur demi keuntungan sepihak,” tegas So Tjan Peng, mengutip pernyataan ikoniknya yang juga diungkapkan dalam peringatan 5 tahun KKM tahun lalu.
Siapa mafia lelang ini? Mereka adalah jaringan oknum yang menguasai ekosistem lelang: debt collector yang intimidasi, penilai aset yang “dibeli”, hingga oknum bank yang “kooperatif”. Modusnya klasik: aset dihargai jauh di bawah NJOP, dilelang berkali-kali sampai hancur, lalu diserok oleh kolega mereka dengan harga sawangan.
Data mendukung kecurigaan ini. Dalam satu kasus yang ditangani KKM, rumah dengan nilai NJOP Rp 2 miliar dilelang cuma Rp 618 juta—hampir 70% di bawah harga pasar. Kasus lain: banyak aset milik perusahaan dilelang jauh di bawah harga pasar, memaksa nasabah menggugat ke Pengadilan Negeri Medan. Bahkan ada rumah yang dilelang dengan harga dasar cuma Rp 399 juta, padahal nilai pasarnya jauh lebih tinggi.
Strategi Melawan, Bukan Melarikan Diri
KKM tidak mengajarkan anggotanya untuk kabur dari utang. Mereka mengajarkan untuk melawan dengan cara yang benar. “Kalau kita melawan ketidakadilan itu bagaimana caranya? Ya kita bawa ke pengadilan. Di pengadilan kita mencari keadilan. Kalau ke pengadilan jangan mencari menang, tapi mencari keadilan,” ujar So Tjan Peng.
Ini bukan retorika kosong. KKM telah menggugat berbagai kasus lelang cacat prosedur. Mereka memaksa bank untuk mengadakan lelang ulang yang adil. Mereka juga mengedukasi anggota tentang Pasal 1365 KUH Perdata—bahwa pelelangan aset tanpa prosedur sah adalah perbuatan melawan hukum.
“Jangan malu jadi korban kredit macet,” seru Sekjen KKM, Sugandhi Makmur (atau lebih akrab disapa Aho). “Kita ini orang baik, kita mau bayar. Tapi kita perlu dukungan informasi, akses administrasi, dan proses hukum yang benar.”
Solidaritas yang Menggigit
Yang membuat KKM unik adalah solidaritas vertikal. Di sini, pengusaha yang sudah “selesai” masalahnya tidak lantas pergi. Mereka tetap, menjadi mentor bagi yang masih terjebak. Ada yang dulu macet, kini usahanya kembali lancar. Ada yang rumahnya sempat terancam, kini justru membela rumah orang lain.
Budi SE, anggota DPRD Sumut yang juga hadir dalam perayaan ulang tahun, mengakui kekuatan ini. “Orang yang sedang jatuh itu butuh wadah, dan orang yang sedang sulit, dia tidak tahu prosesnya seperti apa. Sehingga mereka menjadi konsumtif dan target bagi orang yang memiliki kepentingan,” katanya.
Budi juga bercerita tentang adiknya, Wendy, pelaku usaha roti yang menjadi korban ketidakadilan. Rumahnya terancam direlakan dengan denda berlipat. Tapi Wendy tetap berani menghadapi. “Saya tanya dia, beraninya dari mana? Dia bilang karena ada KKM di belakangnya,” tutur Budi.
Enam Tahun, Bukan Finish Line

Peringatan ulang tahun ke-6 ini bukan hanya party . Ini adalah reuni pejuang . Yang hadir bukan cuma korban, melainkan survivor: Sri Wahyuni Nukman (Ketua Forda UKM Sumut), Sofia (Ketua Forda Medan), Seng Guan (Ketua Forda Deli Serdang), Darmadi (Ketua Forda Serdang Bedagai), plus puluhan anggota yang kini punya cerita bangkit masing-masing.
So Tjan Peng mengaku ironis saat anggota KKM bertambah. “Saya sebenarnya tidak pernah berdoa agar anggota bertambah. Kalau anggota bertambah berarti makin banyak yang kreditnya macet,” ujarnya. Tapi di sisi lain, itu artinya makin banyak orang yang sadar: mereka tidak sendiri.
Ekspektasi lawan Realita
Publik kekinian muak dengan cerita “pengusaha sukses instan”. KKM menawarkan narasi berbeda: keberhasilan yang lahir dari kehancuran. Ini bukan soal utang, tapi soal martabat . Di era yang serba transaksional, KKM mengingatkan bahwa ada hal yang tak bisa dilelang: keadilan, solidaritas, dan hak untuk bangkit.
Enam tahun bukan waktu singkat. Cukup untuk membuktikan bahwa KKM bukan flash mob, tapi movement. Mereka tidak hanya menyelamatkan rumah, tapi juga menyelamatkan harga diri ribuan pengusaha.
Ya, Medan masih punya setumpuk cerita kelam soal lelang. Tapi kini, setiap kali ada mafia lelang yang “bermain”, mereka tahu: ada komunitas yang akan melawan. Bukan dengan senjata, tapi dengan hukum. Bukan dengan amarah, tapi dengan strategi.
KKM membuktikan bahwa dari keterpurukan bisa lahir kekuatan. Dari solidaritas bisa lahir keadilan. Dan dari sebuah komunitas yang lahir di media sosial, bisa tumbuh menjadi benteng melawan ketidakadilan.
Enam tahun hanyalah awal. Selama masih ada rumah yang dihargai murah, selama masih ada pengusaha yang diintimidasi, KKM akan terus ada dan hidup—melawan, menggigit, dan memastikan bahwa kredit macet bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari perjuangan.(id23)











