Ekonomi

Gejolak Harga Pangan Saat Bencana Picu Kemiskinan Fluktuatif

Gejolak Harga Pangan Saat Bencana Picu Kemiskinan Fluktuatif
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Gejolak harga pangan, khususnya pada komoditas yang bersifat volatile food, dinilai berpotensi memicu perubahan status kemiskinan masyarakat dalam waktu singkat atau yang disebut sebagai kemiskinan fluktuatif.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa angka garis kemiskinan yang direpresentasikan dari pengeluaran masyarakat tidak selalu mampu menggambarkan kondisi riil daya beli masyarakat miskin ketika terjadi lonjakan harga pangan.

“Dalam kondisi tertentu, seperti ketika harga cabai merah naik tajam, masyarakat miskin bisa langsung mengalami penurunan daya beli secara signifikan. Kenaikan komoditas volatile food sangat berpeluang membuat kelompok rentan mengalami gangguan pengeluaran,” ujarnya, Selasa (10/2).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2025, terdapat tujuh komoditas utama yang menyumbang porsi terbesar terhadap pembentukan garis kemiskinan, yakni beras, rokok, ikan segar, telur ayam, daging ayam, dan cabai merah.

Menurut Gunawan, dua komoditas seperti beras dan rokok relatif lebih stabil karena adanya intervensi pemerintah dalam menjaga kestabilan harga. Namun, komoditas lain seperti daging ayam, cabai merah, dan ikan segar memiliki karakteristik harga yang sangat berfluktuasi.

“Cabai merah bahkan kerap bergerak seperti roller coaster. Saat ini di Kota Medan harganya berkisar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram, padahal sebelumnya sempat menembus Rp70 ribu saat terjadi bencana besar pada Desember lalu,” jelasnya.

Ia menambahkan, besaran garis kemiskinan sebesar Rp755.041 per kapita per bulan untuk wilayah perkotaan dan Rp671.746 per kapita per bulan untuk pedesaan tidak dapat dijadikan acuan absolut dalam kondisi lonjakan harga pangan.

Sebagai contoh, saat harga ikan, cabai merah, telur ayam, dan daging ayam naik dalam satu periode, pengeluaran masyarakat akan meningkat signifikan. Bahkan di wilayah Kepulauan Nias, harga cabai merah sempat menyentuh Rp200 ribu per kilogram pada Desember lalu.

Kondisi tersebut menyebabkan pola pengeluaran masyarakat dapat berubah, karena sebagian kebutuhan lain harus dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang mengalami kenaikan harga.

“Bagi masyarakat yang berada di sekitar garis kemiskinan, status ekonomi mereka bisa berubah setiap saat, dari berada di bawah garis kemiskinan menjadi di atas, atau sebaliknya. Inilah yang saya sebut sebagai kemiskinan fluktuatif atau volatile poverty,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE