Ekonomi

Gubernur The Fed Diperiksa Jaksa, Harga Emas Tembus 4.600 Dolar AS Per Ons

Gubernur The Fed Diperiksa Jaksa, Harga Emas Tembus 4.600 Dolar AS Per Ons
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi dengan menembus level 4.600 dolar AS per ons troy pada sesi perdagangan Amerika Serikat. Emas tercatat sempat diperdagangkan di kisaran 4.620 dolar AS per ons, sebelum terkoreksi tipis ke area 4.585 dolar AS per ons, atau setara lebih dari Rp2,5 juta per gram.

Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai penguatan harga emas dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), yang diperparah oleh tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran.

“Pasar saat ini berada dalam fase mencari aset aman. Ketidakpastian kebijakan moneter AS dan eskalasi geopolitik membuat emas kembali menjadi pilihan utama investor global,” ujar Gunawan, Selasa (13/1/2026).

Menurutnya, sentimen pasar semakin memburuk setelah mencuat kabar bahwa Gubernur The Fed tengah diperiksa oleh Jaksa AS terkait dugaan tindakan kriminal atas kesaksiannya pada Juni lalu. Situasi tersebut memicu spekulasi bahwa The Fed berada di bawah tekanan politik dan berpotensi mempercepat pemangkasan suku bunga acuan.

“Kasus yang menimpa Gubernur The Fed ini dipersepsikan pasar sebagai bentuk intervensi pemerintah terhadap independensi bank sentral. Hal ini menambah ketidakpastian arah kebijakan moneter ke depan,” jelasnya.

Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pagi dibuka menguat di level 8.931. Penguatan IHSG didorong oleh membaiknya kinerja mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

Gunawan memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang 8.870 hingga 8.950 pada perdagangan hari ini, dengan peluang kembali menguji level psikologis yang lebih tinggi masih terbuka.

Namun demikian, penguatan IHSG berpotensi tertahan oleh pelemahan nilai tukar Rupiah yang bergerak ke level 16.870 per dolar AS. Menurutnya, tekanan pada Rupiah dapat menjadi beban bagi pergerakan pasar saham domestik.

“Pelemahan Rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global, ditambah kekhawatiran pasar terhadap potensi berlanjutnya defisit APBN hingga tahun 2026. Kondisi ini bisa membatasi ruang penguatan IHSG,” pungkas Gunawan. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE