JAKARTA (Waspada.id): Harga batu bara kembali bergerak menguat pada perdagangan Kamis (15/1/2026). Sentimen positif datang dari rencana China yang bersiap menambah lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara, meskipun impor batu bara Negeri Tirai Bambu tercatat menurun sepanjang tahun lalu.
Mengutip investor.id, Jumat (16/1/2026), harga batu bara acuan Newcastle menunjukkan pergerakan bervariasi. Kontrak Januari 2026 melemah tipis 0,6% ke level US$104 per ton. Namun, kontrak Februari 2026 menguat US$0,7 menjadi US$110,7 per ton, sementara kontrak Maret 2026 naik US$0,65 ke US$110,85 per ton.
Pergerakan serupa juga terlihat pada harga batu bara Rotterdam. Kontrak Januari 2026 turun US$0,1 ke level US$97,35 per ton. Sementara itu, kontrak Februari 2026 naik US$0,2 menjadi US$95,35 per ton, dan kontrak Maret 2026 menguat US$0,25 ke US$94,25 per ton.
Berdasarkan data TradingView, harga batu bara global bergerak mendekati US$110 per ton, atau berada di sekitar level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Kenaikan ini sejalan dengan kesiapan China meluncurkan lebih dari 100 PLTU batu bara yang diperkirakan akan memasok kebutuhan listrik ke berbagai wilayah sepanjang tahun ini.
Sebagai konsumen, produsen, dan importir batu bara terbesar dunia, China masih menjadikan batu bara sebagai tulang punggung pasokan energi guna menopang pertumbuhan ekonomi, meskipun ekspansi energi terbarukan terus digenjot.
Meski demikian, pemerintah China telah berkomitmen untuk mulai mengurangi ketergantungan pada batu bara secara bertahap sebelum 2030, sejalan dengan target transisi energi dan pengendalian emisi karbon.
Di sisi lain, data terbaru menunjukkan impor batu bara China sepanjang tahun lalu turun 9,6% menjadi sekitar 490 juta ton. Penurunan ini didorong oleh meningkatnya produksi batu bara domestik serta pelemahan langka pada pembangkit listrik tenaga termal.
Selain itu, sebuah laporan dari lembaga riset swasta mencatat pembangkit listrik berbasis batu bara di China dan India sama-sama mengalami penurunan pada 2025. Ini menjadi penurunan bersamaan pertama dalam hampir setengah abad, seiring kedua negara tersebut mencatat penambahan kapasitas energi bersih dalam jumlah rekor. (invid)










