MEDAN (Waspada.id): Harga beras di Sumatera Utara justru mengalami penurunan di tengah kenaikan harga gabah di tingkat petani. Kondisi ini dinilai sebagai anomali pasar yang perlu diwaspadai pemerintah karena berpotensi memicu lonjakan harga di masa mendatang.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga beras medium di Sumut turun sekitar Rp100 hingga Rp150 per kilogram. Saat ini, beras medium diperdagangkan di kisaran Rp14.850 hingga Rp15.300 per kg, turun dari posisi sebelumnya yang berada di rentang Rp14.950 hingga Rp15.450 per kg.
Di sisi lain, harga gabah justru menunjukkan tren kenaikan. Gabah kering panen (GKP) tercatat berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp7.700 per kg, sementara gabah kering giling (GKG) bahkan menyentuh Rp8.700 per kg.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai kondisi ini tidak mencerminkan keseimbangan harga yang ideal antara hulu dan hilir.
“Kalau mengacu pada harga gabah saat ini, secara keekonomian harga beras seharusnya bisa tembus Rp16 ribu per kilogram. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, harga beras turun karena intervensi pemerintah,” ujar Gunawan yang juga Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Senin (6/4).
Ia menjelaskan, salah satu faktor utama penahan kenaikan harga beras adalah masifnya penyaluran bantuan sosial (bansos) beras oleh pemerintah. Kebijakan ini menekan permintaan pasar sehingga harga sulit bergerak naik meski biaya produksi meningkat.
“Kondisi ini membuat harga beras tertahan. Tapi ini bukan berarti aman, justru ada potensi lonjakan harga ke depan ketika bansos berkurang dan pasokan terganggu,” jelasnya.
Kenaikan harga gabah juga tercermin dari meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan di Sumut yang naik 0,73% menjadi 105,76. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan petani, didorong oleh kenaikan harga jual hasil panen.
Namun, Gunawan mengingatkan bahwa risiko ke depan tidak bisa diabaikan. Berakhirnya musim panen di sejumlah wilayah, ditambah ancaman cuaca ekstrem dan musim kering, berpotensi menekan produksi beras nasional.
“Pasokan bisa terganggu akibat cuaca. Sementara daerah yang masih surplus beras bisa mengalami tekanan karena tingginya permintaan dari luar wilayah,” katanya.
Selain faktor cuaca, dinamika global juga dinilai berpotensi memperburuk situasi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat memicu kenaikan harga pupuk, insektisida, dan herbisida yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi pertanian.
“Kalau biaya produksi naik dan pasokan turun, maka kenaikan harga beras tinggal menunggu waktu. Ini yang harus diantisipasi sejak sekarang,” tegasnya.
Ia menambahkan, kunci stabilitas harga beras ke depan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan di tengah berbagai tekanan tersebut.
“Pemerintah harus fokus pada manajemen pasokan. Karena ancaman ke depan bukan lagi di permintaan, tapi di sisi produksi dan distribusi,” pungkasnya. (id09)










