MEDAN (Waspada.id): Harga cabai merah di Sumatera Utara mengalami penurunan tajam pasca libur panjang Idulfitri. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, harga cabai merah di Medan sempat menyentuh Rp19.800 per kilogram dan hingga kini masih bertahan di kisaran Rp21.000 per kilogram.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa penurunan harga bahkan lebih dalam terjadi di lapangan.
“Dari hasil pemantauan langsung, ada cabai merah yang dijual hingga Rp15.000 per kilogram di tingkat pasar. Sementara di level petani, khususnya di wilayah Deli Serdang, harga sempat berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilogram,” ujar Gunawan yang juga merupakan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Selasa (31/3).
Gunawan menjelaskan, terdapat beberapa faktor utama yang menyebabkan anjloknya harga cabai merah di wilayah ini.
Pertama, dampak bencana banjir besar yang terjadi pada November 2025 lalu. Banjir tersebut merusak banyak lahan pertanian cabai sehingga memaksa petani melakukan penanaman ulang.
“Akibatnya terjadi pergeseran masa tanam sekitar satu bulan. Panen yang seharusnya terjadi di awal Ramadan justru bergeser ke bulan Maret, sehingga terjadi penumpukan pasokan,” jelasnya.
Kedua, masuknya pasokan cabai merah dari wilayah Aceh yang tetap tinggi. Menurutnya, hal ini cukup di luar perkiraan mengingat sebelumnya Aceh juga terdampak banjir.
“Saat banjir, distribusi cabai dari Aceh sempat terganggu. Namun ternyata pada Februari pasokan kembali normal bahkan dalam jumlah signifikan, sehingga menambah tekanan di sisi suplai,” kata Gunawan.
Faktor ketiga berasal dari pola tanam petani yang cenderung tidak terkoordinasi. Banyak petani menanam cabai dengan harapan meraih keuntungan saat momentum hari besar keagamaan seperti Idulfitri.
“Petani memiliki ekspektasi yang sama terhadap lonjakan permintaan, sehingga menyesuaikan masa tanam agar panen bertepatan dengan hari besar. Akibatnya terjadi panen serentak yang membuat pasokan melimpah dan harga jatuh,” paparnya.
Ia menambahkan, kondisi ini menunjukkan pentingnya konsistensi dan perencanaan dalam pola tanam. Namun di sisi lain, petani juga dihadapkan pada berbagai tantangan seperti bencana alam, kenaikan harga sarana produksi pertanian, hingga fluktuasi harga yang sulit diprediksi.
“Tanpa pengelolaan yang lebih baik, siklus kelebihan pasokan dan anjloknya harga seperti ini akan terus berulang dan merugikan petani,” tutup Gunawan. (id09)












