Ekonomi

Harga CPO Menguat, Ditopang Lonjakan Ekspor Dan Minyak Global

Harga CPO Menguat, Ditopang Lonjakan Ekspor Dan Minyak Global
Foto ilustrasi
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali menunjukkan tren positif pada perdagangan Kamis (2/4/2026). Penguatan ini didorong oleh meningkatnya ekspor serta kenaikan harga minyak mentah dan minyak kedelai global.

Melansir investor.id, Jumat (3/4), berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives (BMD), kontrak berjangka CPO untuk April 2026 naik 20 Ringgit Malaysia menjadi 4.685 Ringgit Malaysia per ton. Tren serupa juga terjadi pada kontrak Mei 2026 yang menguat 20 Ringgit Malaysia ke level 4.753 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak Juni 2026 tercatat naik 22 Ringgit Malaysia menjadi 4.791 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juli 2026 bahkan mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.796 Ringgit Malaysia per ton.

Untuk kontrak Agustus 2026, harga meningkat 29 Ringgit Malaysia menjadi 4.774 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan kontrak September 2026 turut menguat 26 Ringgit Malaysia ke posisi 4.737 Ringgit Malaysia per ton.

Penguatan harga CPO ini terjadi setelah sebelumnya mengalami tekanan. Data dari TradingView menunjukkan, reli harga didukung oleh kenaikan harga minyak kedelai di Chicago serta menguatnya harga minyak mentah dunia yang mendorong peningkatan margin biodiesel.

Dari sisi geopolitik, pasar energi global juga mendapat sentimen tambahan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan komitmennya untuk terus menekan sektor energi Iran, meski belum memberikan kepastian terkait penyelesaian konflik yang berlangsung.

Di sisi fundamental, lonjakan ekspor turut menjadi pendorong utama. Lembaga survei kargo memperkirakan ekspor minyak sawit pada Maret meningkat signifikan, yakni antara 44% hingga 57% dibandingkan Februari. Kondisi ini memberikan dukungan kuat terhadap harga dalam jangka pendek.

Meski demikian, laju kenaikan harga CPO masih tertahan oleh penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia serta melemahnya permintaan dari India sebagai salah satu importir utama. Impor India diperkirakan turun menjadi sekitar 680.000 ton pada Maret, dari sebelumnya 847.689 ton.

Sementara itu di dalam negeri, prospek permintaan tetap positif. Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik, khususnya untuk kebutuhan biodiesel. Permintaan bahan baku biodiesel diproyeksikan mencapai 15 juta ton tahun ini, naik sekitar 2 juta ton, seiring implementasi program B50 yang dijadwalkan mulai berlaku pada Juli mendatang.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, harga CPO diperkirakan masih berpeluang bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat dalam jangka pendek. (invid)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE