Ekonomi

Harga Emas Anjlok 2%, Sentimen Perang Dan Penguatan Dolar Tekan Pasar

Harga Emas Anjlok 2%, Sentimen Perang Dan Penguatan Dolar Tekan Pasar
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Harga emas dunia mengalami tekanan tajam dengan penurunan lebih dari 2% pada Kamis (2/4/2026), turun ke level sekitar US$ 4.677 per ons. Pelemahan ini sekaligus mengakhiri tren kenaikan emas yang telah berlangsung selama empat hari berturut-turut.

Laporan Trading Economics menyebutkan, penurunan harga emas dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menyatakan akan mengintensifkan serangan terhadap Iran.

Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga global. Dalam pidatonya, Trump menyebut pasukan AS “hampir mencapai” target militernya di Iran, namun belum memberikan kepastian kapan konflik akan berakhir. Bahkan, ia menegaskan rencana untuk melancarkan serangan lebih besar dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

Di sisi lain, pihak Teheran membantah klaim adanya upaya gencatan senjata, sekaligus menegaskan bahwa Selat Hormuz masih berada di bawah kendali militer mereka. Situasi ini mempertegas ketegangan geopolitik yang terus membayangi pasar global.

Trading Economics juga mencatat, reli dolar sebagai aset safe haven memberikan tekanan tambahan terhadap emas, yang diperdagangkan dalam denominasi dolar. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, harga emas disebut telah terkoreksi hingga 13%.

Sementara itu, Traders Union memproyeksikan harga emas pada pekan depan bergerak dalam kisaran US$ 4.564 hingga US$ 4.814 per ons. Peluang kenaikan dinilai cukup tinggi, dengan probabilitas mencapai lebih dari 80%, meskipun arah pergerakan masih cenderung terbatas.

Analis Viktoras Karapetjanc menilai emas tetap didukung oleh fundamental makroekonomi yang kuat, termasuk tekanan inflasi dan tingginya harga energi. Ia memperkirakan harga emas akan bertahan di atas level support US$ 4.564, dengan potensi menguji level resistensi di US$ 4.814 jika sentimen risiko global terus berlanjut.

“Fundamental yang kuat dan ekspektasi kebijakan yang lebih ketat tetap menjadikan emas sebagai pilihan beli taktis dalam jangka pendek,” ujarnya.

Meski demikian, indikator teknikal yang saling bertentangan membuat pergerakan emas berpotensi bergerak sideways dalam waktu dekat, seiring pasar menanti kepastian arah kebijakan dan perkembangan geopolitik global. (invid)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE