Ekonomi

Harga Emas Dunia Pecahkan Rekor, Pasar Keuangan Dibayangi Tekanan Global

Harga Emas Dunia Pecahkan Rekor, Pasar Keuangan Dibayangi Tekanan Global
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Harga emas dunia kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah setelah sempat diperdagangkan menembus level 4.700 dolar AS per ons troy. Meski terkoreksi terbatas, harga emas masih bertahan tinggi di kisaran 4.566 dolar AS per ons troy, atau setara sekitar Rp2,48 juta per gram. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai reli emas tersebut merupakan sinyal kuat meningkatnya perburuan aset aman oleh investor global.

“Kenaikan harga emas menegaskan bahwa pasar sedang berada dalam mode defensif. Tekanan inflasi AS, ketidakpastian arah kebijakan The Fed, serta memburuknya tensi geopolitik global mendorong investor menjauh dari aset berisiko,” ujar Gunawan.

Di tengah lonjakan harga emas, pasar keuangan global sepanjang pekan ini akan dibayangi rilis sejumlah data ekonomi penting. Dari dalam negeri, data penjualan ritel Indonesia menjadi pembuka sentimen perdagangan.

Sementara dari eksternal, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang diproyeksikan kembali menunjukkan tekanan.

“Jika inflasi AS terealisasi lebih tinggi, maka peluang The Fed menunda penurunan suku bunga acuannya akan semakin besar. Ini menjadi kabar kurang baik bagi pasar keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia,” jelas Gunawan.

Setelah inflasi, AS dijadwalkan merilis data penjualan ritel dan inflasi produsen. Pasar juga akan mencermati data perdagangan China, sebelum ditutup dengan rilis data klaim pengangguran mingguan AS menjelang akhir pekan.
Di awal pekan ini, mayoritas bursa saham Asia tercatat bergerak menguat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut dibuka menguat di level 8.991.

“Secara teknikal, IHSG masih berpeluang menguji kembali level psikologis 9.000. Namun ruang penguatan akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap data inflasi AS,” kata Gunawan.

Berbeda dengan pasar saham, nilai tukar Rupiah justru bergerak melemah ke kisaran Rp16.840 per dolar AS. Tekanan terhadap Rupiah dipicu oleh defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta kekhawatiran pasar terhadap potensi lanjutan tekanan inflasi AS.

Gunawan menambahkan, memburuknya tensi geopolitik global juga menjadi faktor utama yang menahan kinerja pasar keuangan.

“Memanasnya hubungan Rusia dan AS, serta eskalasi ketegangan di Timur Tengah termasuk demonstrasi besar di Iran, meningkatkan ketidakpastian global. Kondisi ini membuat emas kembali menjadi aset favorit investor,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE