NEW YORK (Waspada.id): Harga emas dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Kamis (2/4/2026), seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan harga minyak di tengah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data pasar, harga emas spot anjlok 1,72 persen ke level US$ 4.676,28 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turun lebih dalam, yakni 2,29 persen menjadi US$ 4.702,7 per ons troi.
Pelemahan emas terjadi seiring menguatnya dolar AS, yang membuat logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini secara langsung menekan permintaan emas di pasar global.
Sentimen negatif juga dipicu pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menegaskan akan melanjutkan serangan terhadap Iran. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
Direktur perdagangan logam High Ridge Futures, David Meger, menyebut pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan konflik energi tersebut.
“Ketidakpastian terkait konflik membuat peluang penurunan suku bunga semakin kecil, sehingga menekan harga emas dan perak,” ujarnya.
Lonjakan harga minyak turut memperparah tekanan terhadap emas. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi, sehingga bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Dalam kondisi tersebut, emas menjadi kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil.
Sejak pecahnya konflik Iran pada 28 Februari lalu, harga emas tercatat telah merosot sekitar 13 persen.
Dari sisi fundamental, tekanan tambahan datang dari Turki. Cadangan emas bank sentral negara tersebut dilaporkan turun 69,1 ton menjadi 702,5 ton dalam sepekan terakhir. Secara kumulatif, penurunan dalam dua pekan terakhir mencapai lebih dari 118 ton, seiring upaya otoritas menstabilkan pasar.
Di kawasan Asia, pasar menunjukkan respons beragam. Harga emas di India mulai diperdagangkan dengan premi untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir, didorong peningkatan permintaan setelah harga melemah. Sebaliknya, di China, premi emas justru menurun karena pelaku pasar masih menunggu potensi koreksi lanjutan.
Tak hanya emas, logam mulia lainnya juga ikut tertekan. Harga perak spot turun 2,76 persen ke US$ 73 per ons, platinum melemah tipis 0,05 persen menjadi US$ 1.989,41, dan paladium turun 1,3 persen ke level US$ 1.453,7 per ons.
Dengan berbagai tekanan tersebut, pergerakan harga emas ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi dinamika geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta pergerakan dolar AS. (invid)










