Ekonomi

Harga Minyak Bertahan Di Atas US$100, IHSG Tertekan, Rupiah Dekati 17.000

Harga Minyak Bertahan Di Atas US$100, IHSG Tertekan, Rupiah Dekati 17.000
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Tekanan terhadap pasar keuangan domestik kembali terlihat pada awal pekan ini, Senin (16/3). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah di level 7.115 dan hingga sesi perdagangan berjalan sudah terkoreksi sekitar 1,5 persen.

Pelemahan IHSG dipicu oleh memburuknya sentimen geopolitik global yang turut menekan kinerja bursa saham di kawasan Asia. Lonjakan harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di atas US$100 per barel juga menjadi faktor yang meningkatkan kekhawatiran pasar.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kenaikan harga minyak saat ini menjadi salah satu sentimen utama yang memicu tekanan di pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

“Selama harga minyak mentah masih bertahan di atas US$100 per barel, pasar cenderung berhati-hati. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi global, sehingga membuat pelaku pasar lebih defensif,” ujar Gunawan.

Di sisi lain, rilis data inflasi Amerika Serikat yang relatif stabil belum mampu memberikan katalis positif bagi pasar. Data tersebut justru kembali memunculkan spekulasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, berpeluang mengambil sikap lebih dovish terhadap kebijakan moneternya sepanjang 2026.

Namun demikian, menurut Gunawan, risiko inflasi global masih tetap membayangi apabila harga energi terus meningkat.

“Walaupun ada kemungkinan The Fed lebih lunak dalam kebijakan moneternya, harga minyak yang tinggi tetap menjadi ancaman inflasi global. Ini membuat pasar masih diliputi ketidakpastian,” katanya.

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Nilai tukar rupiah juga kembali melemah pada awal pekan ini. Dalam perdagangan terbaru, rupiah berada di kisaran Rp16.980 per dolar AS dan masih berkonsolidasi di sekitar level Rp17.000.
Gunawan memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlangsung dalam jangka pendek.

“Dengan situasi global saat ini, rupiah berpeluang ditransaksikan di level 17.000 per dolar AS. Bahkan untuk transaksi bank notes biasanya bisa lebih tinggi dibandingkan acuan pasar valas,” jelasnya.

Sementara itu, harga emas dunia justru mengalami penurunan. Emas ditransaksikan di kisaran US$5.012 per ons troy atau sekitar Rp2,75 juta per gram.

Menurut Gunawan, penurunan harga emas terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi akibat lonjakan harga energi.

“Meski sempat turun, harga emas diproyeksikan masih akan bertahan di atas US$5.000 per ons troy. Pergerakannya ke depan sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah dunia,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE