Ekonomi

Harga Minyak Cetak Rekor Tertinggi, Emas Menguat Di Tengah Tekanan Pasar

Harga Minyak Cetak Rekor Tertinggi, Emas Menguat Di Tengah Tekanan Pasar
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan global dan domestik pada awal pekan ini, Senin (30/3) menunjukkan dinamika yang tidak biasa. Di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi perang Iran–AS dan Israel, harga emas justru ikut menguat, sementara pasar saham dan nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan.

Kinerja bursa saham di Asia yang sempat menguat, berbalik melemah hingga penutupan perdagangan. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan hingga ke level 6.945 sebelum akhirnya memangkas kerugian dan ditutup melemah tipis 0,08% di posisi 7.091,67.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar masih berada di zona merah, di antaranya BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, hingga TLKM, yang turut membebani pergerakan IHSG sepanjang perdagangan.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga belum menunjukkan penguatan. Rupiah ditutup melemah di level Rp16.985 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp16.993 per dolar AS pada perdagangan hari ini, seiring dengan penguatan indeks dolar AS (USD Index) ke level 100,2.

Dengan posisi tersebut, rupiah dinilai berpotensi menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada harga penawaran (offer).

Sementara itu, harga emas dunia justru mencatatkan kenaikan signifikan. Emas diperdagangkan di level 4.530 dolar AS per ons troy atau setara sekitar Rp2,48 juta per gram. Kenaikan ini terjadi di saat harga minyak mentah dunia bertahan tinggi di kisaran 115 dolar AS per barel, bahkan mencetak rekor tertinggi sejak konflik memanas.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai pergerakan emas kali ini menunjukkan anomali dibanding pola historis.

“Biasanya, kenaikan harga minyak akan menekan emas karena kekhawatiran inflasi dan penguatan dolar AS. Namun kali ini emas justru menguat, menandakan ada faktor lain yang lebih dominan,” ujarnya, Senin sore.

Menurutnya, salah satu faktor utama adalah meningkatnya permintaan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik global.

“Selain itu, akumulasi emas oleh bank sentral di berbagai negara juga menjadi pendorong kuat kenaikan harga emas. Ini membuat emas tetap menarik meskipun tekanan inflasi dari kenaikan minyak cukup tinggi,” jelasnya.

Gunawan menambahkan, kondisi ini menunjukkan bahwa hubungan antara harga minyak dan emas tidak selalu berbanding terbalik. Dalam situasi krisis global yang kompleks, kedua komoditas tersebut justru bisa bergerak searah.

“Anomali ini menjadi sinyal bahwa pasar sedang berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Investor cenderung mengamankan asetnya ke instrumen yang dianggap paling aman, seperti emas,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE