Ekonomi

Hubungan AS–Eropa Memanas, Harga Emas Cetak Rekor Baru, Rupiah Melemah

Hubungan AS–Eropa Memanas, Harga Emas Cetak Rekor Baru, Rupiah Melemah
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Memburuknya hubungan dagang dan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa kembali memicu gejolak di pasar keuangan global. Kondisi tersebut mendorong harga emas dunia mencetak rekor tertinggi baru, sementara nilai tukar rupiah tertekan hingga mendekati level Rp17.000 per dolar AS.

Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai ketegangan antara AS dan Eropa menjadi faktor utama meningkatnya permintaan aset aman (safe haven), terutama emas.

“Harga emas dunia melonjak tajam dan kembali mencetak rekor baru di kisaran US$4.661 per ons troy, atau sekitar Rp2,51 juta per gram. Kenaikan ini dipicu meningkatnya tensi antara AS dan Eropa, terutama setelah rencana AS menaikkan tarif impor dari Eropa serta konflik politik terkait isu aneksasi Greenland,” ujar Gunawan, Senin (19/1/2026).

Menurutnya, lonjakan harga emas mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi global. Di sisi lain, tekanan eksternal tersebut turut berdampak pada pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Rupiah ditransaksikan melemah hingga ke level Rp16.900 per dolar AS, dan masih berpotensi tertekan jika sentimen global tidak membaik,” jelasnya.

Gunawan menambahkan, pasar keuangan global pada pekan ini dibayangi padatnya agenda ekonomi penting dari sejumlah negara besar. Perdagangan dibuka dengan rilis data pertumbuhan ekonomi (GDP) China, yang menjadi perhatian utama pelaku pasar di awal pekan.

“Selanjutnya, pasar menantikan kebijakan moneter Bank Sentral China (PBoC), lalu disusul keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia pada Rabu. Dari AS, data GDP kuartal III yang diproyeksikan tumbuh di kisaran 4 persen akan dirilis pada Kamis, dan ditutup kebijakan moneter Bank Sentral Jepang (BoJ) pada Jumat,” paparnya.

Di tengah padatnya agenda tersebut, Gunawan mencatat bursa saham Asia bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Kondisi ini turut memengaruhi pasar saham domestik.

“Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang sempat dibuka menguat di level 9.098, namun sepanjang sesi perdagangan masih bergerak di zona merah. Kombinasi pelemahan bursa Asia dan tekanan rupiah akan membebani kinerja IHSG dalam jangka pendek,” pungkas Gunawan. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE