Ekonomi

IHSG Dan Emas Lanjutkan Penguatan, Rupiah Bergerak Sideways

IHSG Dan Emas Lanjutkan Penguatan, Rupiah Bergerak Sideways
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Kinerja pasar keuangan global masih menunjukkan tren positif meski dibayangi perlambatan sektor manufaktur Amerika Serikat. Data Indeks Manufaktur AS (ISM Manufacturing) pada Desember tercatat turun ke level 47,9 dari sebelumnya 48,3. Namun demikian, rilis data tersebut tidak memicu koreksi pada bursa saham di Negeri Paman Sam.

Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin menilai, penguatan pasar saham global saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen geopolitik yang masih memanas, dibandingkan data ekonomi makro semata.

“Pelemahan data manufaktur AS belum memberikan tekanan berarti ke pasar saham. Sentimen geopolitik global justru masih menjadi faktor dominan yang menopang pergerakan pasar saat ini,” ujar Gunawan, Selasa (6/1/2026).

Sejalan dengan bursa global, pasar saham Asia pada perdagangan pagi ini mayoritas ditransaksikan menguat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di level 8.890. Minimnya agenda ekonomi di kawasan Asia memberi ruang bagi IHSG untuk mengikuti pergerakan bursa regional.

Gunawan memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang terbatas. “IHSG berpeluang bergerak dalam kisaran 8.830 hingga 8.930, mengikuti pola pergerakan bursa Asia yang relatif stabil,” katanya.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah pada perdagangan pagi ini terpantau melemah tipis ke level 16.740 per dolar AS. Meski demikian, Rupiah dinilai masih berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan menguat.

“Rupiah berpeluang bergerak dalam rentang 16.720 hingga 16.755 per dolar AS. Potensi penguatan didukung oleh stabilnya imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun di level 4,173 persen serta melemahnya indeks dolar AS di kisaran 98,32,” jelas Gunawan.

Di sisi lain, harga emas dunia masih melanjutkan tren penguatan. Harga emas diperdagangkan di kisaran 4.453 dolar AS per ons troy atau setara sekitar Rp2,4 juta per gram.

Menurut Gunawan, penguatan harga emas tidak lepas dari meningkatnya kekhawatiran inflasi global di tengah tensi geopolitik yang terus memanas.

“Ketidakpastian terhadap prospek perekonomian global ke depan mendorong investor untuk terus melakukan akumulasi emas sebagai aset lindung nilai,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE