Ekonomi

IHSG Dan Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi Baru, Rupiah Ditutup Menguat

IHSG Dan Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi Baru, Rupiah Ditutup Menguat
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak sejarah baru pada perdagangan hari ini Rabu (14/1). IHSG ditutup menguat 0,94 persen ke level 9.032,584, sekaligus menjadi penutupan pertama kalinya di atas level psikologis 9.000, setelah sebelumnya beberapa kali hanya mampu menembus level tersebut secara intraday.

Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai pencapaian ini mencerminkan sentimen positif yang kuat di pasar saham domestik, seiring membaiknya kinerja mayoritas bursa saham Asia.

“Penutupan IHSG di atas 9.000 menjadi sinyal psikologis yang sangat penting bagi pasar. Ini menunjukkan kepercayaan investor yang terus membaik, terutama didorong oleh sentimen regional yang positif,” ujar Gunawan, Rabu (14/1).

Penguatan IHSG juga ditopang oleh kinerja sejumlah saham berkapitalisasi besar dan saham favorit investor, seperti BUMI, ANTM, GOTO, BMRI, hingga TINS. Selain itu, sentimen eksternal turut memberikan dorongan, khususnya dari China.

Gunawan menjelaskan, surplus neraca perdagangan China yang lebih tinggi dari ekspektasi menjadi katalis positif bagi pasar Asia.

“Neraca dagang China pada Desember tercatat sebesar US$808,8 miliar, lebih tinggi dari ekspektasi pasar di kisaran US$805 miliar. Data ini memperkuat optimisme terhadap pemulihan ekonomi regional,” jelasnya.

Dari sisi nilai tukar, rupiah juga menunjukkan performa positif dengan ditutup menguat di level Rp16.855 per dolar AS. Penguatan rupiah dinilai turut menopang pergerakan IHSG di akhir perdagangan.

“Rupiah sempat dikhawatirkan tertekan di awal sesi, namun berbalik menguat setelah pasar menilai data inflasi AS masih membuka peluang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga acuannya,” kata Gunawan.

Sementara itu, dari pasar komoditas, harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi baru. Emas diperdagangkan di kisaran US$4.635 per ons troi, atau setara sekitar Rp2,52 juta per gram.

Menurut Gunawan, lonjakan harga emas mencerminkan meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

“Memburuknya tensi geopolitik global, tekanan inflasi di AS, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi mendorong pelaku pasar lebih memilih mengakumulasi emas dibandingkan instrumen keuangan lainnya,” pungkasnya. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE