MEDAN (Waspada.id): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Senin (9/2) ditutup menguat tajam sebesar 1,22 persen ke level 8.031,874. Penguatan tersebut terjadi seiring membaiknya kinerja mayoritas bursa saham di kawasan Asia.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kinerja IHSG terdorong oleh sentimen eksternal yang mulai kondusif serta meredanya dampak negatif dari penurunan outlook peringkat kredit Indonesia.
“Pergerakan IHSG hari ini sejalan dengan penguatan bursa saham Asia. Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap penurunan outlook rating kredit Indonesia mulai mereda sehingga pelaku pasar kembali melakukan akumulasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, meningkatnya indeks kepercayaan konsumen domestik juga menjadi katalis positif bagi pasar keuangan. Indeks kepercayaan konsumen yang naik ke level 127 pada Januari mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Selain IHSG, mata uang Rupiah juga ditutup menguat di kisaran Rp16.795 per dolar AS. Menurut Gunawan, penguatan Rupiah dipicu oleh membaiknya sentimen ekonomi domestik serta melemahnya sejumlah indikator keuangan Amerika Serikat yang menekan pergerakan dolar AS.
“Rupiah mendapatkan dukungan dari kondisi domestik yang relatif stabil. Di sisi lain, pelemahan sejumlah indikator ekonomi AS membuat dolar cenderung terkoreksi,” jelasnya.
Sementara itu, harga emas dunia pada perdagangan sore terpantau stabil di kisaran US$5.015 per ons troy atau sekitar Rp2,72 juta per gram. Stabilnya harga emas terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Gunawan menyebut pelaku pasar saat ini masih mengambil sikap wait and see sembari menunggu perkembangan lanjutan dari hubungan kedua negara tersebut.
“Ketidakpastian geopolitik membuat emas tetap menjadi aset lindung nilai yang diminati. Bahkan belakangan pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara meningkat sebagai langkah antisipasi terhadap risiko ekonomi dan politik global,” katanya.
Menurutnya, peningkatan kepemilikan emas oleh bank sentral merupakan langkah wajar di tengah ketidakpastian ekonomi global dan potensi konflik yang dapat memicu volatilitas pasar keuangan dunia. (id09)











