Ekonomi

IHSG Dan Rupiah Terkoreksi, Harga Emas Naik Dekati Rp4,7 Juta

IHSG Dan Rupiah Terkoreksi, Harga Emas Naik Dekati Rp4,7 Juta
Kecil Besar
14px

MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan domestik kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan hari ini, Selasa (20/1). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat dibuka menguat di level 9.156, berbalik melemah dan ditransaksikan di zona negatif seiring tekanan dari pasar regional.

Melemahnya mayoritas bursa saham Asia menjadi faktor utama yang menekan IHSG. Kebijakan Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) yang memutuskan mempertahankan suku bunga pinjaman di level 3% dinilai gagal menjadi katalis positif bagi pasar saham kawasan.

Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai minimnya stimulus baru dari China membuat pelaku pasar cenderung bersikap wait and see.

“Pasar Asia tidak mendapatkan dorongan sentimen baru dari kebijakan PBoC. Ini membuat tekanan di bursa regional, termasuk IHSG, masih berlanjut,” ujar Gunawan, Selasa (20/1).

Secara teknikal, IHSG diproyeksikan bergerak terbatas di kisaran 9.100 hingga 9.170 sepanjang perdagangan hari ini.
Tekanan juga dialami nilai tukar Rupiah. Mata uang Garuda kembali melemah dan diperdagangkan di level Rp16.985 per dolar AS pada sesi pagi. Pelemahan Rupiah terjadi di tengah pergerakan dolar AS yang cenderung mixed terhadap mata uang Asia.

Menariknya, pelemahan Rupiah justru terjadi saat USD Index melemah ke kisaran level 99, sebuah kondisi yang umumnya memberi ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang.

“Secara global, dolar AS sebenarnya sedang melemah. Namun Rupiah tidak mampu memanfaatkan momentum tersebut karena masih dibebani sentimen domestik, terutama kekhawatiran pasar terhadap defisit APBN,” jelas Gunawan.

Sementara itu, di pasar komoditas, harga emas dunia justru menguat dan ditransaksikan di level USD 4.674 per ons troy, atau setara sekitar Rp4,7 juta per gram. Kenaikan harga emas terjadi meskipun secara teknikal logam mulia tersebut sudah berada di level yang relatif mahal dan rawan koreksi.

Gunawan menilai penguatan emas masih ditopang oleh faktor fundamental. “Secara teknikal emas memang sudah cukup mahal. Namun secara fundamental, emas masih mendapatkan dukungan dari meningkatnya ketegangan geopolitik global, sehingga tetap menarik sebagai aset lindung nilai,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diimbau tetap mencermati perkembangan global dan domestik, mengingat volatilitas pasar keuangan diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE