MEDAN (Waspada.id): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak melemah pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (30/1/2026) setelah sempat dibuka menguat. Pelemahan tersebut dinilai sebagai bagian dari koreksi teknikal di tengah dinamika sentimen global yang masih fluktuatif.
Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai pernyataan Presiden Amerika Serikat yang semakin serius ingin mengganti Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar global.
“Sikap Presiden AS yang mendorong pemangkasan suku bunga acuan dan berencana mengganti pimpinan The Fed pada dasarnya bisa menekan mata uang dolar AS. Kebijakan The Fed sejauh ini memang belum sejalan dengan keinginan Presiden Trump,” ujar Gunawan.
Menurutnya, tekanan politik terhadap The Fed justru berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar keuangan Asia, karena meningkatkan keyakinan pasar terhadap peluang penurunan suku bunga acuan AS ke depan.
“Pasar melihat tekanan terhadap The Fed sebagai pintu masuk kepastian penurunan suku bunga. Ini seharusnya menjadi sentimen positif bagi aset berisiko di kawasan Asia,” jelasnya.
Namun demikian, sentimen positif tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh pasar domestik. Nilai tukar Rupiah pada perdagangan pagi masih bergerak melemah di kisaran Rp16.795 per dolar AS, sementara indeks dolar AS (USD Index) terpantau menguat terbatas di level 96,61.
Sementara itu, IHSG pada sesi pembukaan perdagangan sempat menguat di level 8.308, sebelum akhirnya berbalik arah dan ditransaksikan melemah di kisaran 8.220. Gunawan memproyeksikan IHSG masih akan bergerak volatil dengan rentang pergerakan yang cukup lebar.
“IHSG masih berpotensi mengalami tekanan di akhir pekan ini dengan rentang pergerakan yang sangat lebar, yakni antara 8.150 hingga 8.310. Investor cenderung masih berhati-hati menunggu kepastian arah pasar,” katanya.
Di sisi lain, harga emas dunia tercatat kembali mengalami koreksi teknikal setelah sempat menguat tajam pada perdagangan sebelumnya. Saat ini, harga emas dunia ditransaksikan di kisaran USD 5.152 per ons troy, atau setara dengan sekitar Rp2,8 juta per gram.
Meski terkoreksi, Gunawan menilai prospek harga emas masih cenderung positif dalam jangka menengah.
“Emas masih memiliki peluang untuk kembali menguat. Ada dua faktor utama yang menopang, yakni potensi penurunan suku bunga acuan The Fed dan meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya risiko perang antara AS dan Iran yang semakin dekat,” pungkasnya. (id09)











