JAKARTA (Waspada.id): Dalam sepekan terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat +3,49% dan menjadi sinyal awal pemulihan pasca isu MSCI, meskipun tekanan eksternal masih membayangi. Moody’s memangkasoutlook terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar termasuk empat bank besar nasional yang sempat memicu kekhawatiran investor.
Selain itu, FTSE Russell memutuskan menunda perubahan komposisi indeks terkait Indonesia karena masih menunggu hasil reformasi pasar yang tengah dijalankan bursa dan akan melakukan review kembali pada Mei mendatang. Penundaan ini ditegaskan tidak berkaitan dengan country classification seperti yang terjadi pada MSCI.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menegaskan, meski ada sentimen campuran, IHSG tetap mampu menguat ditopang saham-saham konglomerasi seperti BUMI, RATU, BUVA dan lain-lainnya, sementara di sisi lain terjadi tekanan jual asing yang cukup besar pada Bank Central Asia Tbk dengan outflow mencapai Rp3,8 triliun dalam sepekan terakhir membuatnya terkoreksi -6,19%. IHSG sendiri mengalami outflow 6.1T dalam sepekan. Hal ini mencerminkan rotasi dan selektivitas investor di tengah dinamika sentimen global dan domestik.
Pergerakan S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi rilis data ekonomi dan dinamika laporan kinerja emiten. Di akhir pekan, perhatian tertuju pada rilis estimasi pertumbuhan GDP dan data belanja serta pendapatan konsumen yang menjadi indikator utama daya tahan ekonomi AS. Selain itu, musim laporan keuangan kuartalan masih berlangsung dan berpotensi memicu rotasi sektoral.
“Ketakutan investor terhadap dampak negatif AI juga berpotensi membuat volatilitas Wall Street tetap tinggi, meski bias pergerakan cenderung konstruktif selama data ekonomi menunjukkan stabilitas pertumbuhan,” ujarnya.
Sementara pasar domestik diproyeksikan bergerak penuh dinamika dengan fokus utama pada pengumuman suku bunga BI (19 Februari) yang menjadi sentimen kunci penggerak pasar, dimana ekspektasi stabilisasi suku bunga sekaligus sinyal arah kebijakan moneter ke depan turut memengaruhi risiko aset lokal.
Selain itu, data loan growth perbankan yang menunjukkan ekspansi kredit yang sehat mencerminkan perbaikan permintaan di sektor riil dan menjadi katalis positif bagi sentimen pasar. Perkembangan reformasi bursa efek Indonesia juga terus menunjukkan progress yang positif meliputi peningkatan transparansi dan tata kelola pasar yang memberikan harapan bagi investor akan daya tarik pasar modal jangka menengah-panjang, khususnya dalam menarik partisipasi investor asing.
“Investor juga perlu memerhatikan rilis data inflasi domestik, update neraca perdagangan, serta sentimen korporasi dari laporan keuangan emiten kuartal IV/2025 yang dapat memberikan arahan lanjutan terhadap arah IHSG,” tegas Hari.
Proyeksi dan Rekomendasi IPOT
Berbicara tentang potensi market untuk 18-20 Februari 2026 pasca libur Imlek, Hari menegaskan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan dipengaruhi sentimen fundamental dari rilis laporan keuangan tahunan 2025 yang secara umum memberikan katalis positif, terutama bagi emiten dengan pertumbuhan laba solid dan margin yang terjaga.
Sentimen kebijakan suku bunga juga menjadi faktor penting karena berpotensi menggerakkan sektor perbankan dan properti, seiring ekspektasi stabilitas likuiditas dan permintaan kredit. Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati perkembangan reformasi Bursa Efek Indonesia yang progresnya cukup konstruktif dan dapat memperkuat kepercayaan pasar dalam jangka menengah.
Secara teknikal, IHSG saat ini berpotensi bergerak konsolidasi setelah belum berhasil menembus area resistance 8.300, dengan level support berada di kisaran 8.120. Selama resistance tersebut belum terlewati, pergerakan cenderung sideways dengan volatilitas terbatas.
Merespons dinamika market yang ada saat ini, IPOT yang kini telah bertransformasi menjadi Wealth Creation Platform merekomendasikan strategi trading saham-saham berfundamental kuat dengan Booster Modal dan instrumen Power Fund Series (PFS) yang kesemuanya ini bisa dikelola dengan fitur Multi-Account untuk memisahkan setiap strategi ataupun tujuan investasi sehingga risiko lebih mudah untuk dikelola dan fitur Shared Access yang dapat digunakan keluarga dan komunitas untuk berkolaborasi dan berinvestasi bersama.
“Dalam kondisi ini investor disarankan lebih selektif dengan fokus pada saham berfundamental kuat dan memiliki dukungan kinerja yang jelas, khususnya di sektor komoditas seperti batu bara, nikel, dan emas yang masih ditopang permintaan global serta harga komoditas yang relatif stabil,” sarannya.
Ia menambahkan, strategi akumulasi bertahap di area support serta disiplin manajemen risiko menjadi kunci untuk menjaga portofolio tetap optimal di tengah fase konsolidasi pasar.
1. Buy BBTN (Entry: 1365, Target Price (TP): 1555 dan Stoploss (SL): 1280). Secara teknikal, BBTN masih bergerak uptrend di dukung dengan aliran dana asing yang besar di pekan kemarin sejumlah 646 Bio. BMRI masih ada potensi untuk melanjutkan lagi kenaikannya seiring pengumuman BI Rate dan Loan Growth di pekan depan.
2. Buy LPPF (Entry: 1895, TP: 1945 dan SL: 1855). Secara teknikal, LPPF saat ini masih bergerak dalam uptrend channelnya dan berada dalam area higher low-nya. LPPF berpotensi melanjutkan kenaikannya membentuk higher high.
3. Buy HRUM (Entry: 1140, TP: 1285 dan SL :1090). Secara teknikal HRUM bergerak uptrend ditandai dengan pergerakan harga diatas EMA-5 hingga 50 dan secara foreign flow juga dalam sepekan terakhir asing rutin mengakumulasi HRUM hingga saat ini secara YTD asing masih net buy sebanyak 83bio.
4. Buy Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD). Produk ETF XIHD menarik untuk dicermati karena portofolionya diisi oleh saham-saham berdividen, yang relevan di tengah mulai maraknya pembagian dividen interim oleh sejumlah emiten. Kondisi ini berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja XIHD, seiring meningkatnya daya tarik saham-saham berdividen sebagai sumber pendapatan sekaligus penopang volatilitas. Dengan sentimen tersebut, ETF XIHD dapat menjadi alternatif investasi defensif yang tetap menawarkan peluang imbal hasil di tengah dinamika pasar. (id09)










