MEDAN, ( Waspada.id); Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (IKAFEB USU) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Leadership Insight Connection: Memimpin dengan Empati, Membangun Resiliensi” pada Sabtu, (7/3) di Al-Amjad Convention Hall, Jalan Merpati, Medan.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog bagi para pemimpin, akademisi, praktisi, dan pelaku usaha untuk memperkuat perspektif kepemimpinan yang empatik dan adaptif di tengah dinamika organisasi modern.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Qori Internasional M. Daud Sitorus serta doa yang dipimpin Dr. Kaswinata, SE., Ak., CA, MSP. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia M. Sakha Admaja, sambutan Ketua Yayasan Al-Amjad Fadullah, SE., MM., serta sambutan Sekretaris Jenderal IKAFEB USU Maf’ul Taufiq, SE., Ak., M.Si., CA.
Dalam sambutannya, Maf’ul Taufiq menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan seminar juga diawali dengan penyaluran bantuan Ramadan kepada Panti Asuhan Ade Irma Suryani di Medan.
“Memasuki tahun terakhir kepengurusan periode 2022–2026, IKAFEB USU tetap menjalankan program organisasi dengan prinsip prioritas high impact–low cost & effort, medium impact–medium cost & effort, dan low impact–high cost & effort agar kegiatan yang dilakukan tetap efektif, efisien, dan berdampak nyata,” ujarnya.
Seminar menghadirkan Prof. Raras Sutatminingsih, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog, yang memaparkan materi tentang Narcissistic Personality Disorder (NPD) di tempat kerja serta dampaknya terhadap karyawan dan organisasi. Ia menjelaskan bahwa perilaku narsistik di lingkungan kerja dapat memicu konflik hingga menurunkan produktivitas.
“Perilaku narsistik di tempat kerja dapat memicu konflik, meningkatkan stres kerja, menurunkan produktivitas, hingga mendorong tingginya turnover karyawan. Karena itu, organisasi perlu membangun batas profesional dan budaya kerja yang sehat,” katanya.
Sementara itu, Prof. Dr. H. M. Syukri Albani Nasution dalam materinya bertajuk “Pemimpin adalah Kita” mengajak peserta memaknai kepemimpinan sebagai tanggung jawab moral setiap individu.
“Pemimpin itu bukan hanya jabatan, tetapi tanggung jawab moral setiap individu. Keikhlasan (mukhlasin) menjadi fondasi penting agar pemimpin terhindar dari sikap riya dan perilaku narsistik,” ujarnya sambil mengutip Al-Qur’an Surah Al-Hijr ayat 39–40.
Seminar ditutup oleh Corporate Insights Practitioner Agus Dwi Handaya, SE., Ak., MBA., Managing Director Human Capital Danantara Asset Management sekaligus Ketua IKAFEB USU. Dalam paparannya, ia memperkenalkan konsep kepemimpinan 3N, yaitu Nata, Nagih, dan Nuntun.
“Seorang pemimpin perlu mampu nata atau menata arah organisasi, nagih atau memastikan target tercapai, serta nuntun atau membimbing tim agar berkembang. Kombinasi pengetahuan, keterampilan, karakter, dan motivasi menjadi kunci membangun tim kerja yang produktif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Seminar ini diikuti sekitar 270 peserta yang berasal dari perwakilan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), akademisi, mitra industri, serta pelaku usaha di Kota Medan.
Berdasarkan hasil umpan balik peserta, kegiatan ini memperoleh tingkat kepuasan terhadap pembicara sebesar 98 persen dan tingkat kepuasan terhadap kualitas acara sebesar 85 persen. Peserta juga berharap kegiatan serupa dapat kembali diselenggarakan dengan durasi diskusi yang lebih panjang serta menghadirkan pembicara dari tingkat internasional.(id12)











