MEDAN (Waspada.id): Nilai impor melalui Provinsi Sumatera Utara sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat sebesar US$5.467,90 juta atas dasar CIF (cost, insurance, and freight). Angka tersebut turun 5,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai US$5.795,16 juta.
Statistisi Ahli Utama Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Misfaruddin, mengatakan, penurunan impor terjadi baik secara tahunan maupun bulanan.
“Jika dibandingkan Desember 2025 dengan Desember 2024, nilai impor Sumatera Utara juga mengalami penurunan sebesar 9,06 persen,” ujarnya.
Berdasarkan golongan barang, impor terbesar selama Januari–Desember 2025 berasal dari golongan bahan bakar mineral dengan nilai US$860,62 juta, disusul mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar US$645,20 juta.
Misfaruddin menjelaskan, dibandingkan periode Januari–Desember 2024, nilai impor untuk sepuluh golongan barang utama (HS dua digit) mengalami penurunan sebesar US$96,94 juta atau 2,63 persen. Sementara itu, impor untuk golongan barang lainnya turun lebih dalam, yakni sebesar US$230,32 juta atau 10,89 persen.
Penurunan impor terbesar pada Januari–Desember 2025 terjadi pada golongan bahan bakar mineral yang turun US$183,90 juta atau 17,61 persen, diikuti golongan ampas dan sisa industri makanan yang menurun US$73,12 juta atau 16,84 persen.
Di sisi lain, terdapat beberapa golongan barang yang justru mengalami peningkatan impor. Kenaikan terbesar tercatat pada golongan mesin dan peralatan listrik sebesar US$67,01 juta atau 45,40 persen, disusul golongan bahan kimia organik yang meningkat US$30,16 juta atau 14,89 persen.
“Peran impor untuk sepuluh golongan barang utama pada Januari–Desember 2025 mencapai 65,54 persen dari total impor Sumatera Utara, dengan kontribusi terbesar berasal dari bahan bakar mineral sebesar 15,74 persen, serta mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar 11,80 persen,” jelas Misfaruddin.
Dari sisi kawasan, impor Sumatera Utara sepanjang Januari–Desember 2025 sebagian besar berasal dari Asia di luar ASEAN dengan nilai US$2.139,79 juta atau 39,13 persen dari total impor. Selanjutnya, impor dari ASEAN tercatat sebesar US$1.730,66 juta atau 31,65 persen, sementara sisanya berasal dari kawasan lainnya.
Berdasarkan negara asal, Tiongkok menjadi negara pemasok barang impor terbesar ke Sumatera Utara dengan nilai US$1.655,89 juta atau 30,28 persen. Posisi berikutnya ditempati Malaysia sebesar US$816,65 juta (14,94 persen) dan Singapura sebesar US$515,78 juta (9,43 persen).
Selama Januari–Desember 2025, sepuluh negara asal utama memberikan kontribusi sebesar 82,92 persen terhadap total nilai impor melalui Sumatera Utara, sedangkan 17,08 persen berasal dari negara lainnya.
“Nilai impor dari sepuluh negara utama tersebut tercatat menurun 4,28 persen dibandingkan periode Januari–Desember 2024,” pungkas Misfaruddin. (id09)











