EkonomiNusantara

Konflik Timteng Timbulkan Tiga Tekanan Ke Perekonomian Indonesia

Konflik Timteng Timbulkan Tiga Tekanan Ke Perekonomian Indonesia
Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto . (ist)
Kecil Besar
14px

JAKARTA (Waspada.id): Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan konflik di Timur Tengah (Timteng) berpotensi menimbulkan tiga tekanan utama ke perekonomian Indonesia. Tekanan tersebut mulai dari gangguan pasokan energi hingga perlambatan sektor logistik dan pariwisata.

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak dunia. Gangguan pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz dan kawasan Laut Merah menjadi faktor utama yang mempengaruhi stabilitas pasokan energi global.

“Yang pertama terganggu tentu suplai minyak. Kedua, transportasi dan logistik. Dan ketiga, sektor pariwisata akan sangat terdampak,” ungkap Airlangga di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Menurut dia, terganggunya pasokan minyak akan berdampak langsung pada kenaikan biaya energi dan aktivitas ekonomi. Ketidakpastian pasokan juga berpotensi meningkatkan tekanan harga di pasar domestik.

Gangguan pada jalur pelayaran internasional turut memengaruhi arus logistik global. Kondisi tersebut berisiko menaikkan biaya pengiriman barang serta memperlambat distribusi perdagangan antarnegara.

Airlangga menambahkan, dampak konflik terhadap perdagangan dan ekspor sangat bergantung pada durasi eskalasi di kawasan tersebut. “Dampaknya sangat tergantung pada berapa lama konflik berlangsung. Karena itu, kita terus memonitor apakah konflik ini berlangsung singkat atau berkepanjangan,” ujarnya.

Pemerintah saat ini terus memantau perkembangan situasi geopolitik dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah membuka opsi impor energi dari berbagai negara sesuai ketersediaan pasokan dan kondisi pasar internasional. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian global.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia berpotensi mendorong penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kondisi tersebut akan berdampak pada biaya produksi dan daya beli masyarakat.

Dari Luar Timteng

Airlangga memastikan pemerintah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan energi nasional. Salah satunya dengan mengamankan pasokan dari luar Timteng.

“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non-Middle East. Kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan beberapa perusahaan di Amerika, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain,nya” jelasnya.

Perihal opsi impor dari Rusia, Airlangga menyebut pemerintah masih memantau perkembangan pasar. “Kami monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor,” ujarnya.

Ia mengakui, secara teori kenaikan harga minyak mentah akan mendorong kenaikan harga BBM, seperti saat perang Rusia-Ukraina. Namun, kali ini ada tambahan suplai dari Amerika Serikat dan peningkatan kapasitas produksi OPEC yang bisa menjadi penahan.

“Otomatis akan naik, sama seperti saat perang Rusia-Ukraina. Tetapi kali ini suplai dari Amerika juga meningkat dan OPEC meningkatkan kapasitasnya,”urai Airlangga. (Id88)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE